| Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Tetsuko Kuroyanagi |
Akhirnya dapat juga aku membaca buku ini setelah sekian lama penasaran. Buku yang sangat bagus dan layak mendapatkan enam bintang. Buku memoar masa kecil sang penulis ini ditulis dengan penuh cinta dan kenangan akan masa kecil nan indah di SD Tomoe Gakuen. Sekolah dengan cara mendidik yang sangat berbeda dengan SD konvensional. Di Tomoe anak bebas mengekspresikan dirinya, dan menemukan dirinya sendiri.
Buku ini membuka cakrawala pendidikan baru bagiku. Kesimpulannya, biarlah anak bebas berekspresi. Jangan terlalu banyak larangan. Perhatikan saja mereka. Akan banyak mutiara kita temukan jika kita berusaha mengerti mereka.
Satu lagi yang kudapatkan dari buku ini. Bahwa tak ada anak dilahirkan menjadi anak nakal. Lingkunganlah yang membuat mereka menjadi anak bermasalah.
Aku sangat terkesan saat membaca bagian dimana Totto-chan membongkar lobang penampungan septic tank untuk mencari dompet kesayangannya. Kepala sekolah Kobayashi tidak marah saat mengetahuinya. Beliau hanya berkata, "Kau akan mengembalikan semuanya setelah selesai, kan?"
Juga ketika Pak Kobayashi meminjamkan uang 20 sen agar Totto-chan bilang membeli sebatang kayu untuk mengetahui apakah sesorang sedang sehat atau sakit. Padahal Pak Kobayashi tahu bahwa batang kayu itu tak memiliki khasiat apa-apa. Itu dilakukan semata-mata agar Totto-chan bahagia tahu dia dan teman-temannnya dalam keadaan sehat.
Aku sedih ketika membaca Tomoe Gakuen dibom tentara Amerika sehingga tak bersisa. Benar-benar menyentuh perasaan.:( | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Kamis kemarin, berkunjung ke wohnheim, karena bete klo di rumah berduaan doang ama Syifa. Setelah masak dan makan2 bareng warga wohnheim (Sefa, Sese, Ola, Hilman), akhirnya kita rame-rame nonton tivi. Mulanya film komedi-nya Steve Martin (lupa judulnya), disambung filmnya Robin William yang berjudul 'Zeit des Erwachens'. Setelah browsing di internet, ketemu judul asli-nya 'Awakening'
Film yang cukup lawas, dirilis sekitar tahun 1990, bagi saya sangat mengesankan. menceritakan tentang dokter Malcolm Sayer (Robin William) yang bekerja di sebuah rumah sakit untuk penderita parkinson, Bronx's Bainbrigde Hospital. Saat itu adalah musim panas tahun 1969, ketika Dr. Sayer menjadi psikiater baru di rumah sakit tersebut. Para penderita parkinson ini hidup sebagai 'tanaman', karena mereka tidak dapat bergerak dan berkomunikasi. Namun, Dr. Sayer berpendapat lain, dan tak pernah berputus asa mencoba hal-hal baru sebagai terapi untuk pasien-pasiennya, termasuk mencoba obat L-DOPA kepada salah satu pasiennya, Loenard (Robert de Niro). Percobaan ini berhasil. Leonard yang telah mengalami parkinson selama 30 tahun, mulai bisa berbicara, dan mengenali hal-hal di sekelilingnya. Keberhasilan ini, mengundang simpati dari berbagai pihak, sehingga pihak rumah sakit mendapatkan suntikan dana untuk mengobati pasien-pasien lainnya. Otak mereka ternyata tidak mati, karena mereka masih mengingat hal-hal yang terjadi sebelum mereka menderita parkinson. Mereka bagai dilahirkan kembali, dan dapat beraktifitas sebagai mana layaknya orang normal. Namun, yang terjadi kemudian, efek obat L-DOPA hanya sementara, karena pasien kemudian mengalami penurunan kondisi, hingga akhirnya mereka kembali menjadi penderita seperti sedia kala. Sangat menarik, kata-kata Dr. Sawyer di bagian akhir film, bahwa tak ada obat yang paling tepat bagi para pasien, kecuali perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya.
Film ini diangkat dari kisah nyata Dr. Oliver Sacks, yang pernah menggunakan L-DOPA untuk terapi pasien post-encephalitic. Akting Robert de Niro sebagai pasien parkinson sangat bagus, sehingga menonton film ini membuat saya trenyuh, dan tak berhenti bersyukur pada Allah, diberi kesehatan dan hidup normal. Alhamdulillah.
| |