Harian Ekonomi Neraca hari ini menampilkan data statistik yang menarik mengenai
konsumsi energi orang Indonesia. Data yang ditampilkan dalam
bentuk perhitungan elastisitas (pertumbuhan konsumsi energi
dibanding pertumbuhan ekonomi) dan intensitas (jumlah konsumsi energi
per PDB). Dari hasil kedua perhitungan diatas, elastisitas dan
intensitas energi di Indonesia termasuk paling tinggi dibandingkan
Thailand, AS/Kanada dan Jepang. Artinya, orang Indonesia boros energi. Padahal, konsumsi energi
Indonesia tergolong kecil.
|
|
Elastisitas
|
Intensitas
|
|
Indonesia
|
1,84
|
400
|
|
Thailand
|
1,16
|
350
|
|
AS / Kanada
|
0,26
|
300
|
|
Jepang
|
0,10
|
200
|
Data dari Divisi Efisiensi Energi Pusat Teknologi Energi BPPT 2004
Saya sendiri tak terlalu heran dengan data diatas. Pengalaman diri
sendiri maupun teman-teman dari Indonesia lainnya menunjukkan demikian.
Dulu saat tinggal di apartemen mahasiswa, biaya langganan listrik kami
lebih mahal daripada teman-teman yang orang Jerman. Diantara orang bule
pun orang Indonesia terkenal boros energi.
Banyak cerita yang saya dengar tentang teman-teman setanah air, akibat
penggunaan energi yang sedikit berlebihan. Seorang teman wanita saya
pernah diusir oleh induk semangnya. Gara-garanya adalah karena teman
saya ini setiap hari mandi, paling tidak sekali sehari, bahkan di musim
dingin sekalipun. Bagi kita orang Indonesia, mungkin tak ada yang aneh,
karena kita memang terbiasa mandi tiap hari, sehari dua kali. Tapi bagi
orang Jerman, hal ini bisa dianggap pemborosan. Saat mandi, kita biasa
menggunakan air panas. Dengan sering mandi, maka biaya energi
membengkak. Dan karena induk semang teman saya ini nggak mau nombokin
biaya energi yang besar nantinya, maka teman saya ini diusir.
Cerita lainnya, seorang ibu dari Indonesia terpaksa nombok lebih dari
seribu euro untuk membayar tambahan biaya energi, karena suatu saat ibu
ini pernah menyewakan rumahnya kepada beberapa mahasiswa Indonesia
selama tiga bulan. Sebabnya adalah, orang-orang indoensia yang menyewa
rumah si ibu ini rajin mandi dan masak. Teman keluarga kami yang juga
mahasiswa juga mengalami kejadian yang hampir sama, diharuskan membayar
tagihan energi senilai lebih dari 500 euro di awal tahun. Selain itu,
masih banyak cerita lainnya seputar tagihan energi yang membuat puyeng
di awal tahun. Kami sendiri, pernah kena tagihan energi 200 euro lebih
di awal tahun. Kejadian ini membuat kami sebisa mungkin irit
menggunakan energi (air, listrik, dan pemanas ruangan).
Banyak hal yang menyebabkan kita, orang-orang indonesia di jerman lebih
banyak menggunakan energi dibandingkan orang jerman sendiri. Namun jika
saya perhatikan, yang menjadi sebab utama adalah memang gaya hidup dan
kebiasaan kita berbeda dengan orang jerman. Misalnya saja, di indonesia
kita biasa mandi tiap hari, bahkan bisa dua kali atau lebih dalam
seharinya. Orang indonesia seringkali mambawa kebiasaan itu saat
tinggal di sini. Sedangkan orang jerman terbiasa tak mandi selama
berhari-hari. Mau tak mau, kita menghabiskan air lebih banyak daripada
mereka.
Contoh lainnya adalah kebiasaan makan dan masak. Masakan indonesia
memerlukan waktu penyiapan dan waktu masak yang relatif lama.
Sedangkan, orang jerman lebih suka makan makanan yang praktis, misalnya
roti atau pasta. Kitapun cenderung lebih sering masak. Hal ini tentu
saja berpengaruh pada biaya energi, yakni pemakain listrik, air,
maupun gas.
Begitu pun saat musim dingin. Karena kita berasal dari daerah tropis
yang tak mengenal musim dingin, tentu saja daya tahan kita terhadap
dingin berbeda dengan mereka yang sudah terbiasa hidup disini.
Seringkali saya sudah merasa udara di luara sangat dingin, sedangkan di
jalanan, orang-orang bule itu cuma mengenakan sweater yang tipis. Cuaca
yang menurut saya sangat dingin, menurut mereka mungkin tak terlalu
dingin. Di rumah, karena tak tahan dingin, kita pun menyalakan pemanas
ruangan lebih sering dengan posisi maksimum (paling panas). Seorang
teman bahkan merasa perlu untk menyalakan pemanas 24 jam sehari, meski
dia tak ada di rumah, agar tak kedinginan.
Hal-hal diatas adalah beberapa contoh mengapa kita lebih boros energi
dibanding orang jerman sendiri. Memang serba salah kalau sudah
kebiasaan. Agak susah untuk mengubahnya.
Di Jerman, biaya energi adalah biaya yang kita keluarkan untuk listrik,
air, pemanas, dan gas. Untuk air, dikenakan dua macam biaya, yaitu
biaya pemakaian dan biaya pembuangan. Biaya pembuangan ini lebih mahal
dari biaya pemakaian. Di Bremerhaven, kota tempat tinggal kami, biaya
pembuangan air sekitar 3 kali lipat biaya pemakaiannya. Biaya energi
yang kita keluarkan besarnya bisa sama atau lebih besar dari biaya sewa
rumah itu sendiri, sehingga sering disebut sebagai biaya sewa kedua.
Pembayarannya dilakukan setiap bulan dengan nominal yang sama. Di akhir
tahun akan ada perhitungan, pemakaian kita yang sebenarnya. Jika uang
yang kita bayar tiap bulan kurang, maka kita harus menambah.
Sebaliknya, jika pemakaian kita sedikit, maka uang kita akan
dikembalikan.
Dengan mahalnya harga minyak mentah, maka biaya energi di jerman dipastikan juga
naik tahun ini sekitar 8-9 persen. Dan agar tidak puyeng bayar tagihan
energi di awal tahun, memang sebaiknya kita berusaha menggunakan energi
seefisien mungkin.
 | yenia wrote on Sep 6, '05, edited on Sep 6, '05 Hehehe...ini ketawa sambil meringis... kasian deh...
satu lagi barang2 elektronik di Ind juga kebanyakan nggak hemat energi -- membutuhkan watt gede...
|
 | cahayahati wrote on Sep 6, '05, edited on Sep 7, '05 Soal pemborosan pemakaian pemanas tidak hanya dilakukan oleh orang Indonesia lho Ra ... di asrama mahasiswa Jülich pernah juga ada penelitian tentang itu. Mahasiswa dari Afrika juga boros sekali. Mungkin penyakit mahasiswa negara panas ya ...
Katrina memang tidak berdampak bagi warga New Orleans saja ya ... harga minyak mentah dan bensin menjadi luarbiasa. Bensin misalnya yang biasanya sekitar 1,10 Euro sekarang menembus 1,40 Euro. Kalau bertahan begini, semua harga akan naik tidak hanya Nebenkosten.
Ngomong-ngomong PDB itu singkatan dari apa ya ?? Tentang elastisitas kayaknya kalaupun pertumbuhan konsumsi energi tetap di 1, sedangkan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih kecil dari satu alias menjadi pecahan, mau nggak mau ya elastisitas menjadi makin tinggi .... Kayaknya sulit dijadikan patokan, atau ???
Saya juga setuju di Indonesia kurang adanya penerangan tentang pentingnya berhemat energi, keluarga Indonesia hanya berputar di scope kecil sekitar irit rumah tangga tapi dampak terhadap scope besar tidak menyadari. Tapi ini juga menurut aku karena jeleknya pendataan dan statistik di Indonesia. |
 | Seorang teman wanita saya pernah diusir oleh induk semangnya. Gara-garanya adalah karena teman saya ini setiap hari mandi,  waduh..jadi ga kebayang deh diusir...hehehehe... tapi di Jepang, kayanya kebalikan mbak. berdasarkan teman-teman sekitarku (Kanazawa, Ishikawa), orang Indonesia masih terbilang hemat energi dibanding orang Jepang. Terutama misalnya dalam hal mandi. okelah orang Jepang maksimal 1 kali sehari mandi (biasanya malam hari). akan tetapi cara mandi mereka 2 kali aktifitas, pertama mandi biasa (membersihkan badan dengan sabun), kemudian berendam di ofuro (bak kecil buat berendam). Trus listrik, misalnya di ruang lab, atau kelas, yang sebenarnya udah terang benderang, masih saja menyalakan lampu. tapi bedanya....dan untungnya..orang jepang menggunakan panel surya, dan benda-benda elektronik mereka rata-rata hemat energi...hehehe.. lain halnya sewaktu tinggal di international house (asrama untuk mahasiswa asing), tagihan gas ku lebih murah dibanding dengan orang Thailand (apalagi musim dingin). Pernah teman Indonesia, terheran-heran dengan temannya orang Eropa yang tagihan listrik dan gas hampir 2 kali lipat rata-rata. mungkin setiap negara beda ya..... :P matur nuwun... |
 | Ira, kalo kita ngontrak rumah di Iran, juga ada konflik ama si tuan rumah deh, tapi kebalikan: orang Indo yg hemat, org Iran yg boros. Suka sebel, kalo bayar gas kan dibagi sama rata, pdhl masaknya org Iran lama..banget, mreka mana ada ceplok telor dan bikin sayur bening kayak kita orang Indo? Kalo rebus ayam, kita kan sampai empuk secukupnya aja, lah mereka...ampe pisah tuh daging ama tulangnya! |
 | cahayahati wrote on Sep 7, '05, edited on Sep 7, '05 Penggunaan energi alternatif  Yang sekarang orang energi baik di Jerman atau negara maju lain andalkan adalah Fuel Cell. Untuk transportasi menurut saya terutama lebih berpotensi.
Dari kompas malah pembangkit fuel cell 1 MW baru saja diresmikan di Sulawesi Utara, Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan kota http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=211834&kat_id=23. Sayangnya sang wartawan tampaknya tidak tahu soal energi .... :-(( |
 | Assalaamu`alaykum wr.wb. Mbak Ira, boleh saya link ya.. soalnya pengen bikin tulisan juga dikaitkan dengan islam, sepertinya sudah mendesak.
Walaupun sudah banyak disinggung, pengen nambahin sedikit tips buat RT (http://www.esdm.go.id/beritalistrik.php?news_id=645) Barangkali masyarakat harus diberi tahu tips2nya ya yang lebih operasional...
Wassalam
Berikut ini disajikan tips hemat energi untuk rumah tangga
Lampu Penerangan 1. Pilihlah lampu yang tepat daya dan ukuran sesuai dengan kebutuhan. 2. Pemanfaatan cahaya alami yang optimal . 3. Lampu dan rumah lampu dijaga selalu bersih. 4. Pilihlah lampu hemat energi . 5. Sesuaikan jumlah titik dan daya (Watt ). 6. Bila tersedia, gunakan listrik tenaga surya terutama untuk penerangan luar/ lampu taman.
Lemari Es
1. Pintu lemari es harus ditutup rapat dan hanya dibuka seperlunya. 2. Jangan masukan makanan dan minuman yang masih panas kedalam kedalam lemari es. 3. Jauhkan lemari es dari sumber panas. 4. Isilah lemari es secukupnya. 5. Bersihkan kondensor secara teratur.
AC (Air Conditioning) 1. Matikan AC bila ruangan tidak digunakan . 2. Atur suhu ruangan sesuai keperluan. 3. Hindari kebocoran udara luar. 4. Pakailah timer switch untuk mengatur pemakaian sesuai kebutuhan.
Alat Pemanas
Hindarilah penggunanan alat pemanas listrik kecuali seterika, namun bila terpaksa perhatikanlah hal-hal berikut :
1. Penggunaan alat pemanas hanya pada saat betul-betul diperlukan 2. Pemanas air dengan LPG jauh lebih hemat energi. 3. Gunakan pemanas air tenaga surya yang bebas biaya energi. 4. Gunakan peralatan pada siang hari. 5. Pilihlah sesuai dengan ukuran yang diperlukan. 6. Bersihkan kantong debu segera setelah digunakan.
Mesin Cuci Listrik
1. Gunakan mesin cuci sesuai dengan kapasitasnya, isi air sesuai petunjuk. 2. Hindari penggunanan pengering listrik, gunakan panas matahari untuk pengeringan secara alami.
Seterika Listrik
1. Bersihkan bagian bawah seterika dari kerak/kotoran. 2. Gunakan seterika otomatis karena lebih hemat listrik. 3. Atur seterika listrik, sesuai dengan tingkat panas yang diperlukan.
Mesin Pompa Air
1. Gunakan penampung air dan otomatis dalam bak sehingga aliran listrik akan terputus/ pompa berhenti bekerja jika bak sudah penuh. 2. Gunakan air jika secara hemat dan cegah kebocoran air pada kran atau pipa.
Alat Memasak
Bila memasak dengan menggunakan peralatan listrik, masaklah sesuai kebutuhan untuk sekali makan. Hindari penggunaan penghangat nasi
1. Gunakan kompor minyak tanah/ tungku kayu yang hemat energi. 2. Gunakan tungku briket batubara jika tersedia. 3. Manfaatkan kompor tenaga surya yang bebas biaya energi. 4. Hati-hati dalam membersihkan peralatan dapur yang menggunakan peralatan listrik. 5. Hindari pencucian dengan air, Contohnya blender, yang dicuci dengan air cukup mangkok dan garpu kocok (mixer).
Selamat Berhermat Energi. Jangan lupa kurangi pemakaian lampu 2 x 25 MW pada pukul 17.00-22.00. |
 | Waalaikumsalam wrwb,
Silahkan di link Mbak.:)
Wassalam |
 | ciput wrote on Sep 14, '05 Sebelum naruh reply, saya baca satu per satu dulu, yes! ternyata ada yg keliwat belum dibahas:
Di Inggris dan Amerika (ga tau di Jerman/Eropa), yg namanya pemakaian listrik ternyata tidak dibatasi alias ga pakai sekring yg bikin njepret mati kalau kelebihan pemakaian. Jadi prinsipnya you pay what you use. Herannya, orang2 Inggris dan Amrik malah irit makainya (mis. lampu rumah ga semua dinyalain kec. diperlukan). Tapi jangan tanya kalau sudah menjelang Natal, lampu pohon Natal dipasang keliling rumah bo... sampai2 istri saya (sewaktu tinggal di AS) pernah geleng2 kepala liatnya, dia bilang "Wah kalau di Indonesia mah satu RT langsung pet... mati lampu begitu itu lampu dinyalain". He3x. |
 | ciput wrote on Sep 14, '05, edited on Sep 14, '05 Energi alternatif sendiri, menurut saya masih dalam tahap wacana  Ini maksudnya di Indonesia ya Mba? Sebab kalau di Eropa (Inggris dan Belanda) yang namanya windfarm (kebun angin?? :-D) sudah bertebaran di sepanjang pantai Laut Utara. Sebab memang angin disini kencang dan relatif kontinu ketimbang di Indonesia yg sering ga ada angin sama sekali meski di tengah laut sekalipun (inii serius lho, namanya juga nelayan), terutama musim timur.
Lalu energi ombak/pasang surut, saya dulu ngetawain kalau mau diterapin di Indonesia karena interval gap antara pasang tinggi dan pasang rendah cuma 2 m, dan itu ga cukup u/ nggerakin turbin. Ga taunya pas saya praktikum oseanografi disini, gila ternyata intervalnya bisa minimal 4 m. Apalagi di Scandinavia katanya bisa 12 m di dalam fjord2, pantesan... |
 | Hallo mbak ,.salam kenal ya,..ikutan nimbrung boleh ya,..
Dari tabel diatas, kayaknya jepang plg hemat ya?. Saya juga suka terpesona sama cara-cara mereka berhemat. Mulai dari cara ngumpulin sampah, sampe menghemat air. Air bekas mandi berendam disedot atau diangkut pake ember untuk dipake air cucian di mesin cuci, lumayan bisa ngirit lebih dari 40 literan!.Baju jarang yg disetrika, cukup pake pelembut ketika nyuci baju dan dirapihkan ketika akan dijemur.
Soal hemat energi ini sepertinya juga dipengaruhi kultur. Ada teman yg begitu persis dg gaya hemat jepang, malah jadinya terkesan begitu perhitungan dan agak pelit bagi para teman-temn ina lainnya. Padahal bisa jadi di massa jepang hal tersebut adalah lumrah. Seperti soal menyajikan makanan bagi tamu. Kebiasaan kita bila ada pertemuan dan kunjungan tamu ke rumah maka kita akan menyiapkan makanan dengan sebaik dan selengkap mungkin, lha kalo org jepang mah mendingan diajak ke restoran dan bayar masing-masing. Tamu cukup di depan pintu aja,..dll,..
Oya satu lagi,..kita memang harus berhemat dan tidak boleh boros(mubazir), tapi tidak jatuh ke sifat pelit heheehehe,..
|
 | ciput wrote on Sep 14, '05 Pengalaman selama di Inggris, saya mandi cukup maksimal sehari sekali bukan karena alasan mau sok ngirit, tapi dingiiiiin. Sebab kalau mandi pun selalu pakai hot shower, jadi ya ga ngirit dunk. Pernah dicoba ga mandi beberapa hari, kok rambut rasanya tebel beneer. Hi3x. Kalau orang Inggris, mah jarang mandi, mereka mandinya mandi parfum. He3x... |
 | setuju mba...kita memang harus irit energi.soalnya aku pernah dimarahin waktu homestay di NZ, sama house mother ku. gara2 lupa matiin heater tiap pagi. padahal wktu itu NZ sedang kekurangan pasokan energi dikarenakan dam PLTA-nya kekeringan.airnya menyusut. wuah...bener2 baru issue saja, strictnya m inta ampun. dari penggunaan listrik, air, sampai heater. dari situ belajar deh untuk tidak melakukan pemborosan energi....
tia |
 | jadi... gimana nih kebiasaan mandi ala indonesianya? wah kalo saya tingal di sana, bakalan diusir induk semang pula kayaknya he he he... tapi orang jerman sendiri nggak mandi berhari-hari...,smelly nggak sih? |
 | iprillia wrote on Sep 15, '05, edited on Sep 15, '05 emang musim panasnya sampe berapa derajat mbak?  klo lagi panas2nya bisa sampai 40 derajat Mbak. Ato paling nggak sekitar 30-an. |
 | Jadi inget waktu dulu kedatengan tamu dari Canada, trus ama nyokap mau diajak ke daerah perkebunan teh, Cikajang. Sebelum berangkat, kita wanti-wanti ama Alan (namanya) kalau Cikajang itu daerah dingin banget, jadi siap2 bawa jaket atau sweater.
Sampe di lokasi, dengan bingungnya Alan nanya... "What? This is cold?" sambil terus ganti kostum pake kaos dan celana pendek... sementara kita tetep pada pake jaket...
Kami lupa... kalau Canada punya winter... he he he  saya dulu pernah ketamuan turis prancis dan anaknya, nginap di rumah. emang sih dia malah kepanasan di rumah kita he he he... but saya salut ama mereka, ngebis ke mana-mana nggak masalah, makan juga terima apa adanya. kita aja yang merasa bersalah kalo nggak bisa menservis dia dengan baik. tapi tipe backpacker kayak mereka mungkin emang nyari yang apa adanya itu ya, mereka udah siap mental. namanya Pascalin Jouis, seorang guru, cuti enam bulan, bersama anaknya yang masih SD. jadi tiap malam dia ngajarin anaknya. lucunya... bilang handuk itu serbet he he he |
 | menarik ya tulisannya ira. setahu saya, pemakaian energi, juga pemborosan energi, yang lebih mengakhawatirkan sebenarnya bukan di rumah tangga, tapi justru di industri. dan negara-negara maju (juga orang-orang di negara maju), termasuk jerman, terkenal dengan pemboros energi nomor paling top di sektor industri. tapi saya setuju kok, kalau orang-2 indonesia harus juga membiasakan diri untuk lebih hemat energi, disegala hal, rumah tangga, industri, dll ... |
 | Mbak Ira, saya mau donk kalau ada perhitungan biaya listrik per satuan alat elektronik semisal pompa air listrik di rumah 4400 Watt, biaya Rp460/Kwh Daya pompa air 500 Watt menyala selama 1 jam berapa yg harus dibayar? tolong perhitungannya ya
Terimakasih Harry dja.hwijaya@cma-cgm.com |
 | mba, bisa ajarin aku cari homestay di jerman gak..., aku berencana kuliah disana..., tapi klo gak ada homestay ortu ku gak kuat bayar biaya hidup katanya....
mohon bantuannya...
best regards
syarif richy_arkad@yahoo.com |
| |