
'I will try a new adventure in jungle' demikian tulis salah seorang
teman semasa SMA saya di message. Teman saya ini bulan depan akan
kembali ke indonesia setelah sekitar 6 tahun belajar di Amerika. Dia
berencana membuka usaha sambil bekerja di Indonesia. Katanya, dia sudah
bosan hidup di Amerika dan mencari tantangan baru di tanah air. Saat
dia mengutarakan keinginan untuk pulang ke tanah air beberapa bulan
sebelumnya, memang saat itu saya yang mengatakan dengan nada guyon, 'Welcomeback to the
jungle'. Dia hanya tertawa saja saat mendengarnya. Itu juga yang
dikatakan teman saya yang lain, ketika kembali ke indonesia, 'I will go
back to the jungle.' Saya yakin, dia tidak bersungguh-sungguh saat itu.
Saya sendirijuga yakin, bahwa Indonesia sebenarnya 'not that wild, like a
real jungle''
lah. Karena menurut pengalaman, beberapa teman bahkan jauh
lebih sukses ketika kembali ke tanah air. Namun, istilah jungle,
mungkin ada benarnya juga jika melihat kondisi di tanah air.
Rasa-rasanya banyak sekali peristiwa yang menunjukkan pada kita, bahwa
yang kuatlah yang akan menang. Hukum yang berlaku mirip hukum rimba.
Yang berduit, dialah yang berkuasa. Yang
kaya berhura-hura, menghamburkan uangnya, sedangkan kaum miskin papa,
berkutat menyelesaikan permasalahannya sendiri. Belum lagi masalah
ketidakteraturan disana-sini. Di jalanan, orang seenaknya sendiri.
Ngurus apa-apa, birokrasi mbuletnya minta ampun.
Kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studi di luar negeri
merupakan pilihan yang mulia dan sangat patut untuk dihargai. Bagaimana
tidak, dengan adanya kemungkinan untuk bekerja di luar negeri dengan
gaji yang jauh lebih tinggi, eh malah memilih mengamalkan ilmu di
negeri sendiri. Ditambah lagi kenyamanan dan keteraturan hidup.
Indonesia sendiri sebenarnya merupakan salah satu negara yang
mengalami 'brain drain'
yang cukup parah, akibat banyak tenaga
ahlinya yang tidak mau kembali untuk bekerja di
indonesia. Namun indonesia masih memiliki berjuta potensi yang sangat
besar untuk
dikembangkan dan dimanfaatkan. Berbeda dengan negara-negara maju yang
cenderung statis perkembangannya.
Akhirnya saya, cuma bisa berdoa untuk teman saya, semoga sukses
membangun tanah air tercinta. Sehingga nantinya, jika ada yang akan kembali ke tanah
air, yang terucap adalah, 'Welcome to paradise!' Amin. Terlalu muluk
nggak ya impian ini?

 | Sedih Mbak, banyak temanku yang pintar banget, tapi akhirnya kerjanya ya di LN juga ;(. Abis memang fasilitas yang ditawarkan oke banget kali ya dibandingkan penghargaan di dalam negeri....
Ya semoga suatu saat terjadi ya Mbak...welcome to paradise-itu saat mereka kembali ;)). Amiin
|
 | iprillia wrote on Jun 13, '05, edited on Jun 13, '05 kan belajar dari Ira juga :)  Wah, tersanjung nih diriku Fa.:) |
 | Sedih sekali mendengar nada satir "welcome to the jungle...". Sudah seburuk itukah Indonesia bahkan dimata kita sendiri, yang notabene dilahirkan di negeri ibu pertiwi ini?
Tapi apa daya, Indonesia, yg dulunya diibaratkan 'paradise', kini memang sudah menjadi 'jungle'.
Namun tak bijak kalo kita terus2an bersikap skeptis. mari kita bangun citra Indonesia yang lebih baik. Kalo pemerintah tak bisa, kita bisa !! Yang berada diluar negeri seperti Mbak dan beberapa teman yang lain adalah duta bagi negeri ini! Selamat berjuang...
|
 | iprillia wrote on Jun 13, '05, edited on Jun 13, '05 Potret sebuah bangsa adalah lalulintasnya, kata orang bijak. Nah, di tanah air tercinta, "kebon binatang" ada di jalanan dalam bentuk umpatan. Wajarlah, welcome to the jungle hehe  Pulang ke tanah air, di minggu2 awal, saya selalu stress kalau sedang berada di jalanan. Kadang-kadang malah jadi paranoid. Mau nyebrang jalan, mesti super hati-hati. Naik kendaraan umum, deg-degan, karena sopir ugal-ugalan atau khawatir kecopetan. |
 | herwina wrote on Jun 13, '05, edited on Jun 13, '05 Seringnya "the jungle" mengimajinasikan kealamian, kemisteriusan, bahaya tak terduga, kekayaan luarbiasa, tapi juga daya tarik tersendiri, etc. Bagi yang menyukai kehidupan yang penuh tantangan dan perjuangan, bukankah malah dicari dan dirindukan? |
 | Welcome to Paradise? Amiiin. Semoga ya Mbak Ira, apa sih yang gak mungkin, asal ada tekad perubahan dari anak bangsa ini. Seneng kalo ada yang mau balik mudik padahal kenyamanan sudah begitu dirasakan di negeri orang. Mulia memang, sama mulianya dengan orang2 yang tetap di negeri ini untuk memperbaiki negeri dari keterpurukan yang begitu parah. Bahkan rela mengorbankan banyak hal, dari materi hingga batin untuk berjibaku, berkhidmat pada umat. Masih, masih banyak orang2 spt itu di negri ini, yang memiliki moral teguh, meski godaan begitu menghantam, dan... orang2 ini butuh bantuan, uluran tangan dari teman2 berbakat, cerdas yang mendapat kesempatan belajar di luar untuk bergabung bersama, mengangkat negeri ini dari keterpurukan. Kalo bukan kita, siapa lagi? (kayak iklan :D). |
 | imazahra wrote on Jun 14, '05, edited on Jun 14, '05 Seringnya "the jungle" mengimajinasikan kealamian, kemisteriusan, bahaya tak terduga, kekayaan luarbiasa, tapi juga daya tarik tersendiri, etc. Bagi yang menyukai kehidupan yang penuh tantangan dan perjuangan, bukankah malah dicari dan dirindukan?  Setuju banget mba...
Buat saya, memilih kembali atau tidak, adalah sebuah pilihan hidup. Dibelakangnya ada ribuan alasan. Sebuah contoh:
Si X memiliki adek banyak, kesulitan ekonomi yang melilit2 dan sejak kuliah di LN sudah rutin mengirimkan uang (dg cara menyisihkan scholarship yg didapat dan bekerja jd cleaner) ke rumah demi kemaslahatan dan keberlangsungan hidup yg layak utk keluarga di Indonesia, maka si A memiliki alasan yg kuat utk bertahan hidup di LN. Berarti tinggalnya di LN adl berkah bagi keluarganya dan membantu negara juga pada akhirnya.
Sudah bukan rahasia lagi, jika ingin kaya di Indonesia dg cara mudah, kita harus 'sikut dan rebut' yg bukan haknya! Sementara di LN kerja sbg cleaner 15 jam perminggu saja mampu menghasilkan uang 5jt-an. Jumlah yg tak sedikit dan halal!!!
So, tidak tepat lagi jika kita menghakimi pilihan org2 Indonesia yg memilih menetap di LN (jujur saja sikap ini dulu pernah saya ambil!). Malah, beberapa teman yg sudah resident disini mendirikan fundrising yg dikhususkan utk membantu saudara2 muslim tertindas di Ambon, Poso, Maluku, Aceh dll.
Bukan main hasilnya jika warga Indo yg di LN tetap bergiat demi Indo dg banyak cara.
Apalagi Allah pernah mengingatkan "Ardhallaahu waasi'un, fantasyiruu fil ardhi wabtaghuu min fadlillaahi... dst" (al Ayat). "Sungguh bumi Allah itu luas, bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah (rizki) dari sisi Allah..." 1 ayat diatas kalo dikaji tafsirnya amat sangat menarik pemaknaannya.
Mari belajar :-) |
 | Terima kasih Mbak Ima. Memang setiap pilihan ada latar belakang. Dan apapun latar belakangnya, sebaikanya memang tak hanya baik untuk diri sendiri, namun juga untuk orang banyak. Sekai lagi terima kasih Mbak Ima. |
 | gAK SAY... bukankah semuanya dimulai dari mimpi... Kita sama-sama berdoa semoga paradise itu bener2 terwujud.. Masalah kapan...??Wallahu alam |
 | bundakirana wrote on Jun 15, '05, edited on Jun 15, '05 He he he he, terserah Uni aja, mana yang lebih manfaat saja untuk ummat :-) InsyaAllah semuanya baik :-)  Subhaanallah, Ima ini emang bijaksana. Padahal saya kan sedang mikir, mana yang terbaik demi kepentingan kantong...hehehehe.... |
 | Indonesiaku....adalah tetap indonesiaku, dengan segala keindahan yang dikenal atau dengan segala kejelekan (KKN cs, peledakan bom, de-el-el) belum lagi ditambah kasus korupsi "dana haji" yang notabene-nya adalah dana yang digunakan untuk beribadah. Kita tidak bisa merubah takdir bahwa kita bukan dilahirkan di Indonesia atau kita juga tidak bisa merubah garis bahwa darah yang mengalir adalah bukan darah Indonesia. Ini semua adalah tantangan bagi kita untuk merubah 'jungle' menjadi 'paradise'. Bukan hanya tugas sebagian warga tapi seluruh warga. Dan perjuangan sebaiknya diniatkan karena Allah swt :) Never give up, let's keep fighting! |
 | Soal mana yg terbaik demi kepentingan kantong juga penting lo! Kan Nabi berpesan, 'Al yadul 'ulya khairun minal yadil as-suflaa' (tangan yg diatas lebih baik dari yg dibawah).  Iya setuju... Tapi, setelah saya pikir2 lagi, idealisme juga penting. Misalnya, saya pernah baca di Gatra.com, banyak insinyur Indonesia mantan IPTN yg skrg kerja di luar negeri dgn gaji super besar, ternyata tetap ingin kembali ke Indo untuk membuat pesawat sendiri di negeri sendiri. (Mrk konon siap dapat gaji jauh lebih rendah di Indo). Sepertinya, ya kata Ima tadi, tergantung kita masing2. Kita yang lebih tahu, kemampuan kita lebih bermanfaat di mana, di Indo atau di LN ...dan duit tidak boleh selalu jadi ukuran. Indonesia kan bumi Allah juga. Iya kan? |
 | wewel wrote on Jul 6, '05 Well, nggak ada salahnya bagi mereka yang menyebut 'jungle', tapi didalam sebuah jungle dapat kita temui bermacam pesona yang kadang tidak kita duga.
I hope so, Saya yakin dalam Indonesia yang seperti saat ini (se rusak apa sih ?), kita punya pesona yang bisa menjadi kebanggaan.
Apakah rekan-rekan saya yang saat ini menimba ilmu di luar negeri dan berniat membangun tanah airnya adalah salah satu pesona itu ? |
| |