The new rotten meat scandal in South Germany grows in
new dimensions. Fifty metric tons in Munich, 40 metric tons in Passau, and 37
metric tons in Regensburg. The Munich management supposes that scruffy product
of a meat wholesaler has been sold not only all over the country, but also in
the European Unions lands.
After the Munich wholesaler, a slaughterhouse in
distric Deggendorf also got under vision of investigators. They are accused
" considerable offence " with storage, processing and sales by meat,
informed public prosecutor's office and police last Firday.
Already on Thursday the police guaranteed there 10,000
kilogrammes of doner kebab meat with which the durability data were partially
crossed about four years. The health centre has called the product according to
the first investigations as " rancid, musty, old and strange ". To
the clarification of the case the criminal investigation department Munich
furnished a special committee "Kühlhaus", means chill house.
The rotten meat from Munich has been imported from
Thailand and from South America, according to an authority speaker. It is
supposed not only nationwide, but also been sold in states of the European
Union (EU). The federal states as well as the EU have been informed about it.
In which EU states the spoilt product was delivered, is up to now unclear.
Only one day later, on Friday, 30 to 40 metric tons of
suspicious duck's meat were confiscated. It was also sold according to police.
Because the investigations go on, " the whole magnitude is not foreseeable
yet ", said a speaker of the of a circle management seminar paper.
Besides, there are clues that the scruffy product not only all over the
country, but also in lands of the European Union has been sold, said the
speaker.
At the same time in Passau the second meat scandal flew
up in the administrative district: With a Deggendorf trader the police
guaranteed 40 metric tons partially spoilt meat. The first knowledge confirmed
the suspicion, " that meat was not able of pleasure in the meat company
any more, was brought in trade in the past", according to the public
prosecutor's office of Deggendorf.
In a chill house in Regensburg 37 metric tons of meat
of the most different kind which should be shipped via Holland to Hong Kong
camped down. " An already loaded transporter was stopped by the police and
was unloaded again. " In a cold storage room not approved for commercial
purposes under a garage in the administrative district Deggendorf the investigators found an other
metric ton of meat. It is determined against the 53-year-old owner of the meat
company of the suspicion of the deception and different offence against the
food right.
Already last year several meat scandals had provided
in Germany for sensation. Among the rest, partly rotten meat tests had been
found with a Deggendorf meat trader. The public prosecutor's office food
brought charges against a meat trader in Gelsenkirchen, in the meantime. As a
consequence from the scandal the Federal Government has improved the rights for
consumers and has put through a law which obliges, among the rest, authorities to
more information about food.
The chairperson of the Green faction of the national parliament of the Federal Republique
of Germany or Bundestag,
Renate Künast, criticised the Federal Government and the person responsible in
Bavaria. Thus place shortenings would have led in the free state apparently to
the fact that the controllers " had insufficiently the finger on it
", said the former consumer protection minister. Besides, one cannot state
in view of the case that her office successor Horst Seehofer (CSU party) has
" his homework done ".
For consumer protection organization “Foodwatch”, Thilo Bode, the present laws are
not enough to protect consumer against rotten meat. " Finally, the laws
here which provide for more transparence have to do it. The names of the rotten
meat companies must be published and the punishments must become harder, but
nothing will change ", said the chairperson of the consumer's organisation in the " ZDF of midday magazine ". " It is
important to understand that it concerns here a political problem and the
consumers have much fewer rights than the food industry ", said Bode.
 | Lao Tzu | Sep 1, '06 5:18 AM for everyone |
Aku terkesan ama quote ini.
Lao Tzu : "A journey of thousand miles begins with a single step"
Akhir-akhir ini saya rajin membaca Germany Survival Bible di surat kabar Spiegel-Online. Tulisan-tulisan berbahasa inggris ini ditampilkan oleh Der Spiegel dalam rangka menyambut Piala Dunia 2006. Tujuannya adalah untuk memberi informasi kepada para turis dan penonton Piala Dunia yang akan datang ke Jerman. Sebagian tulisan berasal dari auslaender (orang asing) yang tinggal di negara ini.
Banyak hal menarik saya temui dalam kumpulan tulisan mereka. Semuanya membuat saya mengetahui lebih jauh mengenai kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku disini. Misalnya, bagaimana disiplin a la Jerman. Atau apa yang mesti dilakukan ketika mengantri. Ada tulisan mengenai banyaknya anjing di negara ini serta anjuran berhati-hati ketika pergi ke taman, dan tempat-tempat umum karena kotoran anjing di mana-mana.
Ada tulisan mengenai kebiasaan menyetir orang Jerman yang merasa dirinya sebagai sopir terbaik di dunia. Banyak diantara mereka yang menjadikan jalan raya sebagai lintasan formula satu. Dan terdapat beberapa tips berkendara di autobahn alias jalan tol di akhir tulisan. Ada pula yang menulis tentang toilet Jerman, yang katanya berbeda dengan toilet di manapun di dunia. Di tulisan lainnya terdapat anjuran untuk membawa banyak uang tunai di banding uang plastik keika berkunjung ke Jerman.
Saya tersenyum ketika membaca tentang mahasiswa abadi Jerman. Menurut tulisan tersebut, rata-rata orang Jerman mulai kuliah ketika usia 23 tahun. Mereka menjadi mahasiswa abadi karena berbagai fasilitas, kemudahan dan kenyamanan yang diberikan negara. Mahasiswa menikmati asuransi murah, diskon untuk mengunjungi museum, tempat wisata, dll. Mereka juga bisa menggunakan kendaraan umum dengan harga yang jauh lebih murah. Tak heran jika sebelumnya, rata-rata mahasiswa Jerman baru lulus S1 ketika sudah berusia 30 tahun.
Jangan percaya jika ada orang Jerman bilang mereka tidak bisa berbahasa Inggris, menurut sebuah tulisan. Mereka belajar bahasa Inggris di sekolah, jadi semestinya mengerti bahasa tersebut. Yang terjadi sebenarnya adalah : they find it incredibly painful to risk imperfection. Jadi, saran penulis, be kind dan beri banyak pujian biar mereka mau berbahasa inggris.
Dan saya pun masih menunggu tulisan-tulisan berikutnya...........................
Harian Ekonomi Neraca hari ini menampilkan data statistik yang menarik mengenai
konsumsi energi orang Indonesia. Data yang ditampilkan dalam
bentuk perhitungan elastisitas (pertumbuhan konsumsi energi
dibanding pertumbuhan ekonomi) dan intensitas (jumlah konsumsi energi
per PDB). Dari hasil kedua perhitungan diatas, elastisitas dan
intensitas energi di Indonesia termasuk paling tinggi dibandingkan
Thailand, AS/Kanada dan Jepang. Artinya, orang Indonesia boros energi. Padahal, konsumsi energi
Indonesia tergolong kecil.
|
|
Elastisitas
|
Intensitas
|
|
Indonesia
|
1,84
|
400
|
|
Thailand
|
1,16
|
350
|
|
AS / Kanada
|
0,26
|
300
|
|
Jepang
|
0,10
|
200
|
Data dari Divisi Efisiensi Energi Pusat Teknologi Energi BPPT 2004
Saya sendiri tak terlalu heran dengan data diatas. Pengalaman diri
sendiri maupun teman-teman dari Indonesia lainnya menunjukkan demikian.
Dulu saat tinggal di apartemen mahasiswa, biaya langganan listrik kami
lebih mahal daripada teman-teman yang orang Jerman. Diantara orang bule
pun orang Indonesia terkenal boros energi.
Banyak cerita yang saya dengar tentang teman-teman setanah air, akibat
penggunaan energi yang sedikit berlebihan. Seorang teman wanita saya
pernah diusir oleh induk semangnya. Gara-garanya adalah karena teman
saya ini setiap hari mandi, paling tidak sekali sehari, bahkan di musim
dingin sekalipun. Bagi kita orang Indonesia, mungkin tak ada yang aneh,
karena kita memang terbiasa mandi tiap hari, sehari dua kali. Tapi bagi
orang Jerman, hal ini bisa dianggap pemborosan. Saat mandi, kita biasa
menggunakan air panas. Dengan sering mandi, maka biaya energi
membengkak. Dan karena induk semang teman saya ini nggak mau nombokin
biaya energi yang besar nantinya, maka teman saya ini diusir.
Cerita lainnya, seorang ibu dari Indonesia terpaksa nombok lebih dari
seribu euro untuk membayar tambahan biaya energi, karena suatu saat ibu
ini pernah menyewakan rumahnya kepada beberapa mahasiswa Indonesia
selama tiga bulan. Sebabnya adalah, orang-orang indoensia yang menyewa
rumah si ibu ini rajin mandi dan masak. Teman keluarga kami yang juga
mahasiswa juga mengalami kejadian yang hampir sama, diharuskan membayar
tagihan energi senilai lebih dari 500 euro di awal tahun. Selain itu,
masih banyak cerita lainnya seputar tagihan energi yang membuat puyeng
di awal tahun. Kami sendiri, pernah kena tagihan energi 200 euro lebih
di awal tahun. Kejadian ini membuat kami sebisa mungkin irit
menggunakan energi (air, listrik, dan pemanas ruangan).
Banyak hal yang menyebabkan kita, orang-orang indonesia di jerman lebih
banyak menggunakan energi dibandingkan orang jerman sendiri. Namun jika
saya perhatikan, yang menjadi sebab utama adalah memang gaya hidup dan
kebiasaan kita berbeda dengan orang jerman. Misalnya saja, di indonesia
kita biasa mandi tiap hari, bahkan bisa dua kali atau lebih dalam
seharinya. Orang indonesia seringkali mambawa kebiasaan itu saat
tinggal di sini. Sedangkan orang jerman terbiasa tak mandi selama
berhari-hari. Mau tak mau, kita menghabiskan air lebih banyak daripada
mereka.
Contoh lainnya adalah kebiasaan makan dan masak. Masakan indonesia
memerlukan waktu penyiapan dan waktu masak yang relatif lama.
Sedangkan, orang jerman lebih suka makan makanan yang praktis, misalnya
roti atau pasta. Kitapun cenderung lebih sering masak. Hal ini tentu
saja berpengaruh pada biaya energi, yakni pemakain listrik, air,
maupun gas.
Begitu pun saat musim dingin. Karena kita berasal dari daerah tropis
yang tak mengenal musim dingin, tentu saja daya tahan kita terhadap
dingin berbeda dengan mereka yang sudah terbiasa hidup disini.
Seringkali saya sudah merasa udara di luara sangat dingin, sedangkan di
jalanan, orang-orang bule itu cuma mengenakan sweater yang tipis. Cuaca
yang menurut saya sangat dingin, menurut mereka mungkin tak terlalu
dingin. Di rumah, karena tak tahan dingin, kita pun menyalakan pemanas
ruangan lebih sering dengan posisi maksimum (paling panas). Seorang
teman bahkan merasa perlu untk menyalakan pemanas 24 jam sehari, meski
dia tak ada di rumah, agar tak kedinginan.
Hal-hal diatas adalah beberapa contoh mengapa kita lebih boros energi
dibanding orang jerman sendiri. Memang serba salah kalau sudah
kebiasaan. Agak susah untuk mengubahnya.
Di Jerman, biaya energi adalah biaya yang kita keluarkan untuk listrik,
air, pemanas, dan gas. Untuk air, dikenakan dua macam biaya, yaitu
biaya pemakaian dan biaya pembuangan. Biaya pembuangan ini lebih mahal
dari biaya pemakaian. Di Bremerhaven, kota tempat tinggal kami, biaya
pembuangan air sekitar 3 kali lipat biaya pemakaiannya. Biaya energi
yang kita keluarkan besarnya bisa sama atau lebih besar dari biaya sewa
rumah itu sendiri, sehingga sering disebut sebagai biaya sewa kedua.
Pembayarannya dilakukan setiap bulan dengan nominal yang sama. Di akhir
tahun akan ada perhitungan, pemakaian kita yang sebenarnya. Jika uang
yang kita bayar tiap bulan kurang, maka kita harus menambah.
Sebaliknya, jika pemakaian kita sedikit, maka uang kita akan
dikembalikan.
Dengan mahalnya harga minyak mentah, maka biaya energi di jerman dipastikan juga
naik tahun ini sekitar 8-9 persen. Dan agar tidak puyeng bayar tagihan
energi di awal tahun, memang sebaiknya kita berusaha menggunakan energi
seefisien mungkin.
Hari ini, sabtu, cuaca cerah. Suhu Bremerhaven pun hangat, yaitu sekitar 20°C. Pagi harinya, saya masih kaputt
(baca: kecapekan). Rencana, agak sorean kami ke Dewaruci. Beberapa kali
telepon rumah berdering. Beberapa teman menelpon, menanyakan tentang
acara Coctail Party yang akan dilaksanakan di atas Dewaruci, Sabtu sore
ini. Sebelumnya, saya sudah mewanti-wanti beberapa kawan, agar datang
ke pesta ini.
Saat kami berangkat sore harinya, hujan rintik-rintik mulai berderai di
bumi Bremerhaven. Seperti kemarin juga, perlu perjuangan untuk
mendapatkan bus kota yang menuju pusat kota. Setalah dua kali ditolak
naik bus, alhamdulillah bus ketiga agak longgar. Jalanan macet. Bus
bergerak pelan dan sering berhenti. Beberapa kali seorang teman yang
datang bersama keluarganya menelpon, menanyakan, kapan saya akan sampai
kesana.
Setelah cukup lama di jalan, kami sampai di halte tujuan, Hafeninsel,
di dekat pelabuhan tempat pusat acara Sail 2005 berlangsung. Keluarga
saya dan teman tadi bergabung menuju KRI Dewaruci. Pengunjung memnuhi
pelabuhan. Kami berjalan merambat, pelan sekali. Di tempat-tempat
tertentu seperti jembatan, kemacetan luar biasa terjadi.
Kapal Dewaruci dipenuhi tamu dan undangan, ketika kami tiba disana.
nampaknya acara makan-makan telah dimulai. Tak banyak membuang waktu,
saya langsung ikut antri. banyak sekali orang Indonesia yang datang.
Beberapa diantaranya saya kenal. Kami mengobrol sambil mengantri bakso.
Saya juga menemukan makanan yang sudah lebih dari 4 tahun tak pernah
saya temui, yaitu 'lorjuk' (bahasa madura). Lorjuk ini berupa ikan
kecil-kecil mirip teri yang digoreng. Beberapa petinggi kapal lain, dan
beberapa orang bule ikut menghadiri
pesta.
Sembari makan, kami disuguhi tarian-tarian daerah, seperti tari reog,
dan tarian dari Sumatera barat. Para tamu tampak sangat antusias dengan
penampilan para kru. Mereka sangat menikmatinya. Tampak binar-binar
kekaguman di wajah mereka. Meski terjadi bebrapa kali terjadi insiden
mati musik saat menari 'dinding ba dinding' para penari dan penonton
tetap antusias. Acara makin semarak oleh tari poco-poco yang banyak
juga diikuti para tamu.
Di luar kapal, pengunjung Sail lainnya menonton dengan rasa ingin tahu.
Sebagian besar mereka ingin ikut masuk. Sebagian lainnya berusaha
mengikuti gerakan poco-poco dari luar. Saya perhatikan, kapal-kapal
lain tak seramai dan semeriah Dewaruci.
Pengunjung langsung membludak, saat acara party kelar, dan kapal dibuka
untuk umum lagi. Para kru instruktur poco-poco sampai kuwalahan
menghadapi mereka. Keramaian ini, berlangsung hingga pukul 22.30.
Dengan berat hati, kru mengusir para pengunjung secara halus. Para kru
kapal mesti bersiap-siap, karena besok pagi mereka harus bersiap-siap
bertolak ke Amsterdam, mengikuti Sail Amsterdam. Jam sebelas, setelah
ngobrol ngalor ngidul dengan kapten, kami menonton kembang api.
Pertunjukan selama kurang lebih lima belas menit ini cukup spektakuler.
Sayang sekali, baterai kamera kami low.
Nggak bisa mengabadikan momen indah ini. Setelah kembang api kelar,
semua kapal membunyikan klakson masing-masing selama beberapa menit.
Hiks, sedih juga besok pagi Dewaruci mesti pergi lagi dari Bremerhaven.
Ada tawaran dari kapten agar kami menginap saja di kapal. Beberapa
teman berencana begadang bersama para kru. Tapi kami memutuskan pulang,
pada tengah malam yang hawanya menusuk tulang.
Pada tanggal 10-14 Agustus nanti ada event besar di Bremerhaven, yaitu Sail
Bremerhaven 2005. Event yang akan diadakan untuk kelima kalinya ini
adalah sebuah Tallship Parade, yang akan dihadiri sekitar 200 kapal layar
tradisional dan 100 kapal lainnya dari 26 negara. Bundeskanzler, Gerhard
Schröder dijadwalkan datang pada tanggal 14 Agustus.
Beberapa negara yang mengirimkan kapalnya untuk mengikuti parade antara lain : Indonesia, India,
Kesultanan Oman, Romania, Bulgaria,
Italia, Portugal,
Kolombia, USA, Ukraina, Rusia, dll. Satu
setengah juta pengunjung diharapkan datang untuk menyaksikan even ini. Wakil
dari Indonesia
adalah KRI Dewaruci.
Menjelang Sail 2005 ini, berbagai persiapan telah dilakukan oleh Bremerhaven. Persiapannya
terdiri dari persiapan jangka panjang dan jangka pendek. Persiapan jangka
penjang meliputi renovasi berbagai sarana pendukung seperti jalan raya, tempat
parkir, dan pelabuhan. sedangkan persiapan jangka pendek meliputi upaya-upaya
untuk mempercantik wajah kota, dan
menyelenggarakan berbagai acara pendukung, Beberapa cara mempercantik
wajah kota antara lain memasang bendera dari
berbagai negara di zone pejalan kaki di kota, membersihkan tempat sampah, dan lampu
jalanan.
Kami senang melihat keadaan kota
yang sedang semarak. Jalan-jalan yang kemarin sempat ditutup untuk diperbaiki,
kini sudah mulai dibuka kembali. Salah satu gedung yang terletak dekat
dengan pelabuhan, tampak dikebut pembangunannya, agar sudah selesai pada saat
Sail 2005 berlangsung.
Saya tertarik melihat program Acara
yang akan berlangsung di internet. Selain itu, saya juga sudah tidak sabar
melihat banyak kapal layar indah (liat di foto sih begitu) dari dekat.
Ada beberapa kapal layar yang menawarkan acara: berlayar bersama di bord
mereka. Tapi, wow, harganya kok mahal-mahal sekalee. Moga diijinkan naek
Dewaruci aja deh (moga gretong, hehe). Dan semoga cuaca pada saat parade cerah
ceria. Foto dan cerita mengenai event ini, insyaallah menyusul.:)
   
Sewaktu pulang dari wohnheim (asrama mahasiswa) sore tadi ada kejadian yang menarik. Saat berjalan ke arah halte, dari kejauhan terdengar ''Tatu tata, tatu tata'' (suara sirene) beberapa mobil. Ah biasa, pikir saya. Paling-paling ambulan.
Eh, suara-suara sirene itu makin mendekat. Saya melihat 2 mobil notartz (dokter gawat darurat) berhenti beberapa puluh meter sebelum halte bus. Mungkin ada yang sakit atau butuh pertolongan segera, pikir saya lagi. Kira-kira semenit kemudian, datang 3 mobil pemadam kebakaran dan 2 ambulan dan 1 mobil polisi. Makin seru nih.
Beberapa petugas pemadam kebakaran berlari-lari ke gedung kejadian. Mereka tampak panik saat masuk ke dalamnya. Sebuah mobil dokter tampak mondar-mandir. Mungkin mencari jalan, agar bisa masuk lewat belakang gedung.
Saya memperhatikan peristiwa ini dari kejauhan. Bus sudah telat sekitar lima menit Mau ikut nonton, khawatir ketinggalan bus. Namun saya lihat, busnya nggak mungkin lewat jalan itu, karena jalan yang mestinya dilewati bus terhalang oleh 3 mobil pemadam kebakaran yang gede-gede itu.
Sesaat kemudian, seorang pemuda memberuítahu saya, ''Sebaiknya anda berjalan ke halte di ujung sana. Disini percuma, karena busnya cuma bisa ngetem disana.''
Daripada kelamaan menunggu, akhirnya saya putuskan melihat aksi petugas pemadam kebakaran dari dekat. Terus terang, ini pertama kali saya melihat langsung mereka beraksi. Dua orang petugas tampak membawa selang besar ke dalam gedung. Dari luar, tak tampak api atau asap sebagai tanda telah terjadi kebakaran. Orang-orang di dalam gedung, tampaknya sama sekali tidak panik. Beberapa orang di lantai dua dan tiga gedung kejadian malah menonton aksi ini melalui jendela rumah mereka. Dua orang sopir bus menghampiri seorang petugas untuk menanyakan kapan mereka bisa melanjutka perjalanan. ''Tak ada sesuatu yang buruk terjadi,'' kata seorang petugas yang baru keluar gedung. Kami pun mulai membubarkan diri. Dan saya bergegas menuju bus.
Kejadian ini hanya berlangsung sekitar 15 menit. Saya, sopir bus, dan semua penumpang lega, karena akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan. Di dalam bus, saya berpikir. Bagi saya, sepertinya kejadian tadi nggak terlalu serius. Tapi mungkin para petugas itu tak menganggapnya demikian. Buktinya, mereka mesti mengerahkan 3 mobil pemadam, walaupun yang kepake cuma satu. Dokter dan ambulan juga tetap stand by, meski saya melihat tak ada korban. Mungkin ini yang dinamakan ACT (Aksi Cepat Tanggap). Cepat dan tanggap saat terjadi bencana.
Sayang saat itu saya tak membawa kamera. Sapa tau bisa foto sama petugas pemadam kebakaran yang lagi beraksi. Kan bisa tak pamerin ke Mbak Endang di Kanada. ^_^
Seorang
teman mengeluhkan cuaca di Bremerhaven kemarin. Baru sekitar dua minggu dia
tinggal disini untuk praktikum selama enam bulan. ’’Nggak nyangka deh, kalau
musim panas bisa sedingin ini,’’ katanya.
Seminggu
ini mendung hampir selalu menggantung di langit Bremerhaven. Hujan sering
turun. Kadang gerimis, kadang lebat. Angin yang berhembus kencang, menambah
dinginnya Bremerhaven. Suhu udara luar sekitar 13-16 °C.
Bremerhaven
memiliki raa-rata curah hujan yang cukup tinggi, yaitu antara 800-900 mm per
tahun. Rata-rata kecepatan angin di kota ini termasuk yang paling tinggi di
jerman, yakni 5 m/s. Hujan disertai
angin kencang sering terjadi di musim gugur dan awal musim semi.
Terkadang
ada sedikit kesal pada cuaca
Bremerhaven. Seringkali kali rencana kami gagalkan, karena cuaca yang kurang
mendukung. Mau pergi belanja, hujan. Batal. Mau ke kampus males, karena hujan
turun dengan derasnya. Sepertinya, hujan sangat berpengaruh pada mood saya. Melihat
langit mendung atau saat hujan, mood saya jadi turun. Akibatnya, saya jadi
lebih malas beraktifitas.
Suatu
kali, saya pernah mengeluhkan tentang cuaca yang tak menentu, dan seringnya
hujan di Bremerhaven pada seorang teman, yang sekarang telah kembali ke tanah
air.
''Kita
harus bersyukur tinggal di Bremerhaven yang sering hujan. Hujan itu berkah dari
Allah. Sering hujan berarti lebih banyak barakah yang jatuh di kota ini.
Insyaallah,'' katanya mengomentari keluhan saya.
Menurut
Ahmad Mushthafa al-Maraghi, penulis Tafsir al-Maraghi, "berkah" dari
langit mencakup pengetahuan yang diberikan Tuhan dan ilham (bimbingan)-Nya dan
dapat pula berarti hujan dan semacamnya yang mengakibatkan kesuburan dan
kemakmuran tanah.
Saya jadi
malu. Bukannya bersyukur dengan rahmat Allah berupa hujan, malah mengeluh. Toh,
sudah pilihan hidup saya sendiri untuk tinggal di kota ini. Dan selain hujan,
masih banyak hal yang bisa dinikmati di kota ini. :) So I''ll try to enjoy it all.
Pada hari Sabtu 2 Juli lalu, untuk kedua kalinya kami ke Helgoland.
Sama dengan tahun lalu, kami berangkat dengan tiket murah yang
dikoordinir pihak kampus. Kami cukup membayar 5 euro per orang, dari
harga asli 32,50 euro per orang. Sangat murah. Banyak pengalaman
menarik dan berkesan selama mengikuti perjalanan ini.
Untuk sampai ke Helgoland, kami naik kapal feri besar bernama MS
Atlantis. Kapal ini berkapasitas sekitar 1000 penumpang. Lebih kecil
dari MS Helgoland (kapasiatas ca. 2000 penumpang) yang kami tumpangi
tahun lalu. Meski lebih kecil Atlantis tak kalah nyaman. Kapal
berkecepatan 18 knot ini memiliki tiga tingkat. Dilengkapi dengan bar,
restauran, basar, tempat bermain anak, bahkan tempat berjemur.
Asyik juga memperhatikan berbagai aktivitas para penumpang. Sebagian
menghabiskan waktu dengan memotret atau mengabadikan momen dengan
handycam. Ada yang makan sambil mengobrol di restauran. Beberapa
mahasiswa teman kami main kartu 'on board'. Ada yang tidur, ada yang
berjemur. Perjalanan ke Helgoland yang ditempuh selama sekitar 3 jam
sama sekali tak terasa membosankan. Beberapa kali terdengar suara
kapten kapal menyapa penumpang lewat speaker. Kapten menjadi pemandu
wisata selama di perjalanan, dengan memberitahu penumpang tentang
hal-hal menarik di perjalanan.
Hari Sabtu lalu alhamdulillah cuaca cerah. Ombak di lautan tak terlalu
kencang. Kami sampai Helgoland tengah hari. Kapal feri kami tak merapat
sampai ke pulau. Kami mesti berpindah ke boot kecil untuk sampai
disana. Asyik sekali naik boot kecil yang dimainkan gelombang.
Helgoland, pulau kecil seluas sekitar satu kilometer persegi ini mirip
pulau batam. Tax free. Asal kita
berbelanja tak melebihi peraturan yang
ditetapkan. Barang-barang yang banyak dijual adalah coklat, rokok,
wine, parfum, dsb. Karena tahun lalu, kami sudah menjelajahi
tempat-tempat belanja, maka tahun ini kami berniat berjalan-jalan
mengelilingi seluruh pulau.
Di Helgoland tak boleh ada kendaraan bermotor. Kendaraan yang ada
menggunakan batere. Udaranya paling bersih se-jerman. Di pulau ini juga
terdapat pusat penelitian biologi kelautan, dan tempat konservasi
beberapa jenis burung.
Kami pun berjalan menikmati keindahan pulau. Melihat rumah-rumah yang arsitekturnya mirip dengan Skandinavia. Melihat dermaga yacht. Melewati taman. Bermain-main sebentar di pantai tempat beberapa orang sedang berjemur. Pulau kecil yang indah, pikir saya.
Setelah beberapa lama berjalan, sampailah kami di suatu tebing. Untuk
sampai keatas kami mesti menaiki anak tangga berjumlah 260. Untunglah
di tengah-tengah ada tempat duduk istirahat. Sampai diatas, ngos-ngosan.
Mengelilingi bagian atas pulau, pemandangannya semakin keren. Memandang
laut lepas. Melihat ribuan burung yang bersarang di tebing pulau.
Menikmati segarnya udara Helgoland. Mengabadikan keindahan dalam
kamera. Walau membawa buggy
(kereta dorong balita) kami sama sekali tak mengalami
kesulitan. Ada jalan khusus untuk pejalan kaki yang
berkeliling pulau.
Waktu yang sempit, membuat kami tak sempat menikmati wisata lain di
sini, yaitu wisata belanja dan wisata kuliner (kayak Pak Bondan Winarno
aja:) ). Kami hanya sempat berjalan-jalan sebentar di kota dan membeli
beberapa batang coklat. Semoga saja tahun depan masih diberi
kesempatan seperti ini.
Kopi adalah minuman favorit orang Jerman. Jika dirata-rata, mereka minum
sekitar 180 liter kopi per orang pertahun. Melebihi rata-rata bir, 150 liter
per orang per tahunnya. Kopi dijual dimana-mana. Restauran, bar, kios. Jika tak
bisa menemukan kedai makan, kopi bisa didapatkan di mesin otomatis dengan harga
yang murah.
Ratusan merek kopi dengan berbagai aroma dijual disini.
Harganya pun bervariasi, mulai sekitar 6 euro per kilo hingga 30 euro. Kopi
yang paling mahal, ternyata adalah kopi Luwak Indonesia, yang harganya 50 euro
lebih sekilonya. Hebat.
Saya pribadi sangat jarang minum kopi diluar rumah.
Mahal. Mending minum di rumah. Saya minum kopi di luar ketika cuaca sedang
dingin. Atau saat mengantuk di perjalanan. Hari minggu kemarin adalah
pengecualian. Saya sekeluarga memutuskan ke cafe, sekalian mengadakan
pengamatan untuk tugas deskripsi.
Di hari minggu di musim panas, pusat keramaian adalah
cafe-cafe yang menjual es krim. Pilihan kami adalah cafe Orange di zone pejalan
kaki persis di tengah kota.
Cafe Orange ini modelnya khas cafe-cafe Eropa. Sebagian
besar bangkunya terletak di trotoar. Saat kami datang, suasana cafe tak terlalu
ramai. Hanya 3 meja yang terisi termasuk meja kami. Kami duduk di bangku paling
pojok, agar saya bisa mengamati dengan jelas. Seorang pramusaji wanita melayani
nenek di sebelah meja kami. Pramusaji yang saya taksir berumur awal duapuluhan
itu sangat cantik.
''Saya datang sebentar lagi'', katanya ramah pada kami.
Kami melihat-lihat menu. Ada 13 macam menu eskrim spaghetti, 18 macam eskrim,
dan 16 macam kopi. Es krim spaghettinya dicampur buah-buahan seperti kiwi,
mangga, alpukat, dsb. Menu eskrim lainnya sebagian besar beraroma kopi. Kopinya
sendiri terdiri dari capuccino, moccacino, latte macchiato, dan nama-nama asing
lainnya. Selain itu ada kue-kue, pizza
dan roti isi.
Saya memesan eiskaffee, sementara suami saya memesan
eskrim rasa macchiato. ''Maaf jika pesanan datang agak lama. Hari ini saya
bekerja sendirian;'' kata sang pramusaji. ''Tak masalah'', jawab saya.
Sambil menunggu pesanan, saya mengamati cafe lebih jauh.
Cafe ini diapit 2 toko pakaian wanita. Bagian dalamnya tak terlalu luas. Di
bagian depannya adalah tempat eskrim. Nuansa oranye cukup kental di bagian
dalam. Sesuai dengan namanya. Di bagian luar, yaitu di trotaor terdapat sepuluh
meja yang masing-masing memiliki 4 kursi cafe. Kursi yang nyaman, dengan alas
yang cukup empuk. Membuat orang betah berlama-lama disana. Di seberang cafe
terdapat toko buku, dan toko roti. tak jauh dari situ ada sekumpulan air mancur.
Atraksi air yang bervariasi mengundang beberapa orang menikmatinya. Beberapa
anak kecil tampak bermain air. Menyenangkan. Orang berlalu-lalang melewati
kami. Sesekali, burung merpati hinggap dekat dengan meja pengunjung.
Sekitar lima menit kemudian, pesanan kami datang. Hmmmmm,
eskrimnya enak. Cantik sekali mereka menampilkannya. Wangi aroma kopi segera
tercium dari minuman yang saya pesan. Segelas besar kopi yang dicampur dengan
eskrim dan krim. Sluurrrppp nikmatnya.
Sembari makan dan mengobrol, saya meneruskan mengamati.
Saya mencatat beberapa hal yang saya anggap penting. Nenek disebelah
beberapakali mencuri pandang ke arah kami. Dua meja lagi terisi. Dua pasang
manula duduk di bangku sebelah kiri kami. Tiga orang lagi duduk agak jauh dari
kami. Sebagian besar memakai baju tanpa lengan. Hal yang sangat biasa di musim
panas begini.
Kota tempat kami tinggal sekarang
adalah kota kecil. Kota ini
berpenduduk sekitar 112 ribu jiwa. Karena kecilnya, teman-teman yang tinggal di
kota lain, sering menganggapnya sebagai desa atau kampung. Jerman tapi kampung.
Sarana transportasi umum yang ada hanyalah bus kota. Tak ada tram, apalagi U-Bahn (subway). Angka penganggurannya pun,
terbilang cukup tinggi, yakni 20 persen. Penduduknya agak cuek terhadap
peraturan. Misalnya saja, mereka seringkali menyeberang sembarangan, jarang
mengenakan sabuk pengaman ketika mengemudikan mobil, menelpon saat mengemudi,
dsb. Satu hal lagi, kota ini terbilang agak jorok dan terkesan kumuh.
Sampah-sampah
berserakan di beberapa tempat. Yang lebih menjengkelkan adalah bayak para
pemilik anjing yang membiarkan anjingnya membuang kotoran di sembarang tempat,
tanpa membersihkan setelahnya. Jalan, taman, di bawah pohon-pohon boulevard
adalah tempat-tempat dimana kotoran anjing sangat sering di jumpai.
Tentu saja hal ini sangat mengganggu. Pagi
hari yang cerah dan menyegarkan, tercemari oleh bau kotoran. Jika
berjalan-jalan, mesti berhati-hati agar tak meginjaknya. Sebenarnya telah ada perda yang mengharuskan
pemilik anjing untuk membersihkan kotoran anjingnya ketika buang hajat di
tempat umum. Namun, nampaknya peraturan ini lebih sering dilanggar daripada
ditaati. Sejak peraturan diberlakukan beberapa tahun yang lalu, kotoran anjing, tetap
saja berserakan.
Kemarin saat bersepeda sendirian
melewati sebuah boulevard dekat
rumah, saya menumpai sesuatu yang unik. Di
sepanjang boulevard itu banyak saya
jumpai bendera-bendera kecil berwarna merah dan kuning. Saya yang penasaran
mendekati bendera-bendera tersebut. Pada bendera tertulis pfuiiiii dan iiiiigitt.
Di bawah tiap bendera adalah kotoran anjing. Mungkin ada yang demo kotoran anjing nih,
pikir saya saat itu.
Saat saya membaca surat kabar lokal
hari ini, ada berita tentang kampanye
anti kotoran anjing di jalan yang kemarin saya lewati. Masyarakat di sekitar situ sudah sangat
jengkel pada para pemilik anjing yang tak bertanggung jawab. Selain kampanya
ada pendataan ulang jumlah anjing di kota ini. Disebutkan, bahwa jumlah mereka yang didata
adalah 3909 ekor anjing. Diperkirakan, bila seekor anjing menghasilkan kotoran
seberat 300 gram sehari, semuanya akan menghasilkan
satu ton lebih setiap harinya. Semoga saja pemerintah daerah segera mengambil
langkah yang tepat untuk menanganinya.
Kemarin, 25 Juni 2005,
terpilihnya Presiden Islamic Republic of Iran, Mahmud Ahmadinedschad, menjadi headline di beberapa media massa di
Jerman. Semua media massa tersebut, menyebutkan bahwa terpilihnya Ahmadinedschad,
sebagai hal yang megejutkan, dan di luar dugaan, karena mereka memprediksi,
Rafsanjani-lah yang akan menduduki kembali kursi kepresidenan di Iran. Tak
kurang 3 media besar yang menjadikan hasil pemilu Iran sebagai headline. Diantaranya adalah Stern, Die Zeit dan Focus Magazine. Beberapa media online
seperti gmx.net dan freenet.de juga menjadikan pemilu ni sebagai berita utama.
Bahkan surat kabar harian di kota kecil tempat kami tinggal, Bremerhaven, Nordsee Zeitung juga menampilkannya
sebagai headline, lengkap dengan potret, siapa sebenarnya Ahmadinedschad. Rupanya media massa Jerman, cukup antusias mengikuti proses Pemilu di Iran
kali ini.
Stern Magazine,
menampilkan dua judul utama, yaitu Der
Westen kritisiert Präsidenten-Wahl (Barat
Mengkritik Pemilihan Presiden) dan Der
Präsident, der aus dem
Nichts kam (terjemahan
bebasnya : Presiden yang Tak Bermodal). Stern menyebutkan bahwa terpilihnya
Mahmud Ahmadinedschad menjadi presiden terbaru Iran telah menimbulkan kritik di
dunia barat, terutama oleh AS, Inggris dan Jerman. Disebutkan juga, presiden yang menyabet 61,8
persen suara ini sebagai orang yang tidak memiliki pengalaman dalam politik
luar negeri. Selain itu, Ahmadinedschad yang kontra terhadap politik reformasi-nya
Presiden Mohammed Chatami, dianggap akan menjadi sandungan terhadap
liberalisasi dan demokratisasi Iran, karena adanya keinginan Ahmadinedschad
untuk menerapkan hukum Islam yang lebih ketat.
Die Zeit memuat
berita ini dengan judul Konservativer Hardliner
regiert künftig den Iran (Konservatif Garis Keras
Memerintah Iran). Memuat komentar menteri luar negeri Inggris yang menyatakan,
bahwa pemilihan presiden Iran mengalami 'defisit'. Straw mengkritisi, proses
pemilihan, dimana rakyat tidak bisa benar-benar bebas memilih orang-orang yang
dikehendaki pada tahap pemilihan awal. Straw juga berharap presiden baru Iran
akan segera meng-handle program atomnya, memerangi terorisme, dan memberi
perhatian pada hak asasi manusia dan proses pembebasan Nahost. Selanjutnya, Die
Zeit juga memaparkan reaksi AS atas terpilihnya presiden Mahmud Ahmadinedschad.
AS menganggap terpilihnya presiden baru ini, merupakan langkah mundur
demokratisasi. Sedangkan, Uni Eropa juga mengkritik proses pemilu Iran. menurut
EU, Iran harus memulai reformasi politik dan sosial. Mereka juga
mengkhawatirkan tentang hak-hak asasi manusia di Iran, Program Atom, terorisme
dan proses perdamaian nahost.
Di Focus Magazine,
menteri luar negeri Jerman, Joschka Fischer juga mengkritik proses pemilu Iran,
yang menurutnya cacat. Lebih jauh, Fischer menjelaskan, bahwa kelanjutan
kerjasama ekonomi dengan Iran tergantung pada kepercayaan international
terhadap Iran, untuk lebih 'membuka' dirinya terhadap dunia.
Melihat cukup gencarnya
pemberitaan media massa jerman tentang pemilu Iran ini, menyiratkan adanya
perhatian terhadap bangsa Iran. Saya juga menangkap adanya ketakutan dari ‚barat’, dan
menganggap presiden Amadinedschad sebagai orang yang ultrakonservatif. Stern juga
menulis, bahwa meski dia tidak kelihatan seperti mullah, namun, tidak kalah
religius.
PS: Buat Mbak Dina,
tulisan ini sebagai pembanding saja, antara pemberitaan di jerman, dan kenyataan yang
terjadi di Iran. Semoga, Iran menjadi semakin baik, dengan terpilihnya presiden
Mahmud Ahmadinedschad (ejaan jerman nih).
 | Sia-Sia | Jun 16, '05 8:16 AM for everyone |
Wah lupa, nasi udah basi dalam rice cooker. Padahal sisa nasi masih
banyak di dalamnya. Saya menyesal sekali. Menyesal karena telah lalai.
Sekarang kan sudah memasuki musim panas. Sebagian besar makanan yang
sudah masak, sudah harus di masukkan ke dalam lemari pendingin, agar
awet. Saat musim dingin, makanan lebih awet meski dibiarkan selama
beberapa hari. Tapi sekarang, ah mau bagaimana lagi, harus dibuang.
Kalau saya renungkan lagi, banyak sekali saya menyia-nyiakan hal-hal
kecil selama ini. Seringkali masakan saya jadi hangus,
gara-gara keasikan di depan komputer. Atau bahan-bahan makanan
yang disimpan membusuk, sebelum sempat dimasak. Sering juga saya
biarkan air keran mengucur meski tidak saya gunakan. Di musim dingin,
saya juga beberapa kali lupa mematikan pemanas ruangan atau membiarkan
komputer menyala ketika keluar rumah.
Ah ternyata saya telah banyak membiarkan hal-hal kecil menjadi sia-sia.
Padahal, dibelahan bumi yang lain, hal-hal kecil yang telah saya
sia-siakan mungkin sangat berguna bagi mereka. Makanan yang saya buang,
mungkin bisa mengganjal perut mereka yang kelaparan. Air yang saya
buang pun, tentu sangat berharga bagi mereka yang kekurangan. Listrik,
disaat banyak orang belum menikmatinya, saya malah
memanfaatkannya untuk hak yang tidak berguna. Astaghfirullah hal
adziim. Betapa rasanya saya kurang mensyukuri semua yang saya dapatkan.
Jika hal-hal kecil saya seringkali saya sia-siakan, bagaimana saya
mensyukuri sesuatu yang besar.
'Dan Dia telah memberikan untukmu keperluanmu dari
segala yang kalian mohon kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat
Allah, tidaklah dapat kalian memperkirakannya. Sesungguhnya manusia
itu sangat zalim dan mengingkari nikmat Allah. (QS Ibrahim: 34)'
'Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidah menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.'
"Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman…yaitu…(dan) orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (QS. Al-Mukminun,
23 :1&3)
Padahal semua yang kita lakukan dan dapatkan, harus
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah nantinya. Ah, bagaiaman nanti
saya mempertanggungjawabkan semua yang telah saya sia-siakan. Waktu,
harta, perkataan, semuanya.:(
Dalam kitab Wabil ash-Shayyib, Ibnu Qayyim al-Jauzi menjelaskan
salah satu keutamaaan berzikir. Beliau menyebutkan, selama lidah kita
sibuk berzikir, maka selama itu pula ia akan terhindar dari
perbuatan sia-sia, berbohong, ghibah, senda gurau, dsb.
Ya, Tuhanku, berilah aku ilham
untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada kedua ibu-bapakku, dan untuk mengerjakan amal
saleh yang Engkau ridhai. Dan masuklah aku dengan rahmat-Mu ke
dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (QS an-Naml: 19)
Ya Allah, jauhkan segala kesia-siaan dalam hidup kami. Amin.

'I will try a new adventure in jungle' demikian tulis salah seorang
teman semasa SMA saya di message. Teman saya ini bulan depan akan
kembali ke indonesia setelah sekitar 6 tahun belajar di Amerika. Dia
berencana membuka usaha sambil bekerja di Indonesia. Katanya, dia sudah
bosan hidup di Amerika dan mencari tantangan baru di tanah air. Saat
dia mengutarakan keinginan untuk pulang ke tanah air beberapa bulan
sebelumnya, memang saat itu saya yang mengatakan dengan nada guyon, 'Welcomeback to the
jungle'. Dia hanya tertawa saja saat mendengarnya. Itu juga yang
dikatakan teman saya yang lain, ketika kembali ke indonesia, 'I will go
back to the jungle.' Saya yakin, dia tidak bersungguh-sungguh saat itu.
Saya sendirijuga yakin, bahwa Indonesia sebenarnya 'not that wild, like a
real jungle''
lah. Karena menurut pengalaman, beberapa teman bahkan jauh
lebih sukses ketika kembali ke tanah air. Namun, istilah jungle,
mungkin ada benarnya juga jika melihat kondisi di tanah air.
Rasa-rasanya banyak sekali peristiwa yang menunjukkan pada kita, bahwa
yang kuatlah yang akan menang. Hukum yang berlaku mirip hukum rimba.
Yang berduit, dialah yang berkuasa. Yang
kaya berhura-hura, menghamburkan uangnya, sedangkan kaum miskin papa,
berkutat menyelesaikan permasalahannya sendiri. Belum lagi masalah
ketidakteraturan disana-sini. Di jalanan, orang seenaknya sendiri.
Ngurus apa-apa, birokrasi mbuletnya minta ampun.
Kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studi di luar negeri
merupakan pilihan yang mulia dan sangat patut untuk dihargai. Bagaimana
tidak, dengan adanya kemungkinan untuk bekerja di luar negeri dengan
gaji yang jauh lebih tinggi, eh malah memilih mengamalkan ilmu di
negeri sendiri. Ditambah lagi kenyamanan dan keteraturan hidup.
Indonesia sendiri sebenarnya merupakan salah satu negara yang
mengalami 'brain drain'
yang cukup parah, akibat banyak tenaga
ahlinya yang tidak mau kembali untuk bekerja di
indonesia. Namun indonesia masih memiliki berjuta potensi yang sangat
besar untuk
dikembangkan dan dimanfaatkan. Berbeda dengan negara-negara maju yang
cenderung statis perkembangannya.
Akhirnya saya, cuma bisa berdoa untuk teman saya, semoga sukses
membangun tanah air tercinta. Sehingga nantinya, jika ada yang akan kembali ke tanah
air, yang terucap adalah, 'Welcome to paradise!' Amin. Terlalu muluk
nggak ya impian ini?

Apakah
yang menjadikan sesorang menjadi manusia yang tangguh? Apakah kekayaan dan
kehidupan yang nyaman? Ataukah hidup serba berkecukupan dan rasa aman? Ternyata
jawabannya adalah bukan. Mengapa bukan? Lihat saja orang-orang eropa barat ini.
Sedari mereka lahir, sebagian besar dari mereka hidup berkecukupan. Hampir
tidak mengenal apa itu kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan. Hidup mereka
makmur, teratur, dan aman. Pendidikan, dapat diperoleh dengan mudah asal ada
kemauan. Sarana umum, seperti transportasi, perpustakaan, kesehatan, lengkap. Kalau
sedang bangkrut dan tak punya uang, maka negara akan membantu.
Saat ini,
beberapa negara di eropa barat tak semakmur dulu. Tengok saja jerman, belanda,
dan perancis. Mereka merasa kehidupan mereka sekarang tak semakmur sebelumnya. Pengangguran
meningkat tajam, angka kemiskinan dan kejahatan merambat naik. Yang terjadi
kemudian adalah semakin maraknya demonstasi menuntut perbaikan nasib. Rakyat dan
pemerintah sama-sama frustasi. Mengapa mereka frustasi? Sebenarnya, saat ini mereka
sedang dilanda rasa takut. Sang rakyat takut tak punya pekerjaan, takut tak
memiliki uang dan harta, takut tak bisa hidup nyaman dan layak. Pemerintah pun dianggap
tak becus mengurusi rakyatnya. Mereka sama sekali tidak bisa disebut sebagai
manusia-manusia yang tangguh. Mereka memang tampak sebagai orang yang penuh
percaya diri. Namun, sekali mengalami kegagalan, mereka langsung goyah, dan ketakutan.
Sekarang bandingkan dengan rakyat Palestina. Rakyat
yang hidupnya dalam penindasan, kesusahan, dan kemiskinan. Bangsa Palestina
adalah bangsa yang tidak mau tunduk dan menyerah begitu saja terhadap agresor
yang datang ke negeri mereka dan melakukan penindasan terhadap mereka. Bangsa
Palestina di masa lalu telah bangkit berjuang dan akan selalu tegak berjuang
mengusir penjajah dan perampas tanah air mereka. Rakyat Palestina berjuang dengan
menggunakan batu dan bom-bom sederhana rakitan sendiri. Namun demikian, mereka
tetap tegak berdiri di depan tank-tank baja dan peralatan militer canggih rezim
Zionis yang menguasai tanah Palestina sejak 1948. Rezim
zionis sering menggunakan taktik menghina, menyiksa, dan menekan rakyat
Palestina dalam aksi-aksi mereka. Kini, ribuan rakyat Palestina mendekam di
penjara-penjara Zionis dan mengalami penyiksaan. Demikian juga, setiap hari,
tentera rezim Zionis menyerang kawasan pendudukan dan mengakibatkan orang-orang
Palestina gugur syahid dan luka-luka. Rezim
Zionis juga menekan perekonomian bangsa Palestina.
Namun,
kondisi yang mengecewakan rakyat Palestina ini tidak serta merta membuat mereka
menjadi lembek. Mereka sangat bangga jika bisa melakukan sesuatu bagi
negaranya. Mereka militan. Semakin keras bangsa israel menekan, semakin keras
juga mereka melawan. Merekalah manusia-manusia tangguh. Berada dalam keadaan
yang serba kekurangan, dan keterbatasan
telah melahirkan manusia-manusia tangguh yang sesungguhnya. Wallahualam.
Hari ini berjalan seperti biasa bagi saya. Tidak
ada yang terlalu istimewa sebenarnya. Sore baru balik ke rumah lagi setelah
weekend ini numpang bobo di rumah salah seorang teman mahasiswi. Baru nyadar
ada something setelah nonton berita di tv tentang peringatan hari
Lingkungan Hidup sedunia di Berlin. Mereka merayakan hari Lingkungan Hidup
dengan mengadakan kampanye dan pawai bersepeda. Ah ya pikir saya. Sebenarnya
sejak kemaren-kemaren saya ingin menulis jurnal tentang lingkungan. Topik yang
mungkin kurang menarik buat kebanyakan orang, namun cukup menarik bagi saya. Mungkin
karena kebetulan saya pernah berkuliah di Jurusan Teknik Lingkungan di salah
satu PTN di surabaya.:)
Dulu sekali, sebelum kuliah pengetahuan dan kesadaran saya tentang lingkungan
rendah sekali. Buang sampah suka sembarangan, disuruh menyapu dan bersih-bersih
rumah, males banget, kemana-mana maunya pake kendaraan bermotor, meskipun deket
banget.
Sejak kuliah, pengetahuan tentang lingkungan semakin banyak. Parkteknya,
sedikit lebih baik. Saya selalu sewot klo ada yang buang sampah sembarangan.
Cerewet klo mama banyak pake zat aditif saat masak. Trus, kemana-mana, asal
deket, saya lebih suka jalan kaki, agar hemat BBM. Sampai-sampai, klo ada
pertemuan keluarga, banyak sodara yang menyindir. Sssst, ati-ati jangan sampe
membuang sampah sembarangan, ntar diomelin ama menteri lingkungan hidup, kata
mereka. Meski begitu, saya rasa, lebih banyak teori yang saya terima, daripada
praktik yang saya lakukan.
Di lingkungan tempat tinggal saya dulu, di daerah keputih, sukolilo, surabaya,
sebenarnya bukan tempat yang terlalu ideal untuk ditinggali. Sekitar 1,5
kilometer dari tempat saya tinggal ada TPA alias Tempat Pembuangan Sampah Akhir
Keputih. Disanalah sampah warga surabaya ditimbun dan ditimbun secara open
dumping. Mereka punya incinerator unuk membakar sampah, namun saat
itu alat tersebut rusak. Timbunan sampah itu hanya dibakar untuk mengurangi
volumenya. Tak jarang, asap hitam hasil pembakaran harus saya hirup jika angin
berhembus ke arah perkampungan tempat saya tinggal. Pun bau sampah yang mulai
membusuk, menusuk-nusuk hidung. Lebih parah lagi setelah hujan. Baunya, pfuih,
seringkali menghilangkan selera makan. Suhu surabaya yang sangat panas, juga
merupakan tempat yang cocok bagi nyamuk untuk berkembang biak. Ditambah lagi
saluran terbuka di muka rumah, airnya selalu tergenang, sangat kotor dan bau. Jutaan
nyamuk berkembang biak setiap hari disana. Hidup disini, membuat saya
selalu merasa, apa yang saya lakukan buat lingkungan tak ada artinya.
Toh tak ada yang peduli.
Alhamdulillah, kemudian Allah memberi saya kesempatan untuk tinggal di
negeri ini. Disini, saya belajar banyak hal tentang lingkungan, dan
bagaimana mencintai lingkungan. Bisa dibilang disini, hampir semuanya
serba teratur. Awalnya berat juga untuk menjadi teratur. Buang sampah
misalnya, mesti dipisah-pisah dulu. Di rumah paling tidak ada 3 jenis
tempat sampah untuk sampah yang berbeda, sampah dapur, sampah kertas,
dan sampah lain-lain. Awalnya saya malas, memisah-misah sampah, sampai
disindir sama suami. Kuliahnya aja di teknik lingkungan, masa misahin
sampah buat di-recycling males, komentarnya.
Disini, tak pernah saya jumpai kendaraan bermotor berasap hitam,
karena tiap kendaraan bermotor mesti dipasangi filter. Paru-paru kota
ada dimana-mana, bahkan ada hutan di tengah kota.
Saya sendiri, di lingkungan yang seperti ini semakin terbawa untuk lebih concern
terhadap lingkungan. Yang kami lakukan sebenearnya hal-hal sepele,
misalnya memilah sampah seperti yang telah saya sebutkan, memilih
detergen yang lebih mudah didaur ulang, dan di musim dingin,
menghidupkan heizung
(pemanas) seefisien mungkin, untuk menghemat energi dan biaya.
Untungnya informasi dan berbagai tips mengenai program cinta lingkungan
dapat dengan mudah kita dapatkan melalui brosur, buku, dan internet.
Dulunya saya pikir, pantas saja, mereka bisa hidup bersih begini, lha
pemerintahnya yang bagus dan perhatian sama lingkungan. Namun,
pemikiran saya ini, ternyata tak sepenuhnya benar. Karena saya sadari
kemudian, tanpa kesadaran setiap individu, program-program pelestarian
lingkungan akan sangat sulit untuk diwujudkan. So sekecil apapun yang
kita lakukan untuk lingkungan, akan ada manfaatnya, paling tidak untuk
diri kita sendiri.
Hampir
tiada hari yang saya lewatkan tanpa membaca surat kabar online. Tak kurang 7
surat kabar (Republika, Jawapos, Kompas, Stern, der Spiegel, die Zeit, dan
Nordsee-Zeitung) berbahasa indonesia maupun jerman saya baca setiap harinya.
Membacanya sudah menjadi kebutuhan bagi saya. Memang tidak semua berita saya
baca, melainkan headline atau berita-berita lain yang menarik hati. Sekedar
melepas rasa ingin tahu saja. Sejak sekitar seminggu ini, saya menemukan sebuah
tabloid mingguan versi online menarik bernama die Zeit. Die Zeit sendiri
berarti time atau waktu. Mungkin versi lain majalah Times. Beberapa tahun yang
lalu saya beberapa kali membaca die Zeit versi cetak hasil pinjaman dari
seorang teman yang berlangganan. Isi die Zeit bagi saya sangat menarik. Membacanya
selalu mendapat hal-hal baru yang mencerahkan. Tabloid ini isinya lumayan
serius dan sarat pengetahuan, jadi membaca versi cetaknya membutuhkan energi
yang sangat besar, terutama karena masih banyak kata-kata dalam bahasa jerman
yang belum saya mengerti. Dalam satu terbitannya die Zeit memuat banyak sekali
topik. Mulai topik politik, ekonomi, sosial budaya, travelling, ilmu
pengetahuan dan beberapa topik lainnya. Edisi cetaknya cukup tebal. Nah, hal
menarik yang saya temukan di die Zeit versi online adalah bahwa dia memiliki
weblog alias blog.
Mengapa
weblog-nya menarik bagi saya? Karena
blog di surat kabar bagi saya merupakan fenomena
tersendiri. Baru kali ini saya mengetahui ada weblog di surat kabar.
Weblog-nya
sendiri menjadi semacam surat kabar dalam surat kabar. Redaktur mereka
bekerja
sama dengan blogg.de menawarkan berita, tulisan, catatan, dalam
bentuk
blog. Jadi kita membaca berita seperti membaca blog, dan bisa langsung
memberi
komentar. Komunikasi antar penulis dan pembaca menjadi 2 arah, berbeda
dengan
surat kabar online konvensional. Ragam isi dan topiknya pun tak jauh
berbeda. Memang tak sebanyak topik di surat kabar online biasa.
Topiknya antara lain topik umum, politik, ekonomi, pengetahuan, budaya,
travelling, gaya hidup, dan journalisme. Lumayan banyak kan?
Di topik umum ada blogger salon
yang memuat berita-berita dari redaktur langsung.
Fundsachen berisikan, berisi tentang penemuan-penemuan
/kejadian-kejadian unik yang dialami redaksi. Dalam topik
politik ada 2 blogger, berjudul Beruf Terrorist oleh seorang ahli hukum, dan Im Moloch Kairo,
oleh seorang mahasiswi jerman yang menceritakan kehidupan
sehari-seharinya di Kairo. Ada Geldseligkeiten di blog tentang ekonomi, membahas tentang keuangan. Ada 2 blog mengenai ilmu pengetahuan, yaitu Megawatt dan Zeitwissen:log. Ada pula Music und so dalam blog tentang budaya. Transamerica, tentang satu keluarga jerman yang berkeliling amerika dengan menggunakan caravan, dlam blog bertemakan travelling. Ada pula beberapa blogger bertemakan gaya hidup dan jurnalisme. Blogger-blogger
ini rata-rata merupakan orang yang memang ahli di bidangnya. Di weblog di Zeit juga
dicantumkan link-link ke blog lainnya yang dianggap menarik dan relevan
dengan topik yang dibahas. Satu lagi yang menarik di weblog adalah
bahwa ternyata tiap tahun mereka mengadakan kompetisi untuk menentukan
blog-blog berbahasa jerman terbaik, yang dinamai Preisbloggen. Yang dinilai adalah desain blog, isi yang menarik sesuai dengan keahlian blogger.
Adanya
weblog di surat kabar ini bagi saya membuka era baru bagi para
blogger. Kini blogger mesti dipandang lebih serius,
tidak hanya sebagai pengisi buka harian di internet saja.
Bisa saja, berkembangnya jumlah para blogger ini memicu
berkembangnya freelance online journalist,
sehingga suatu saat nanti blogger diakui sebagai
profesi di dunia nyata, so bukan sekedar hobi lagi. Menurut saya,
hal ini bukan suatu kemustahilan karena meskipun pengguna internet di
indonesia masih berkisar 3,6 % (data tahun 2004), namun pertumbuhan
pengguna internet dunia sebesar 144 % lebih per tahun menjadikan saya
lebih optimis.:)
Vivat Blogging! Vivat Blogger!
Wah, mahal-mahal banget. Itulah kesan
saya saat berbelanja di awal kedatangan saya disini. Apalagi saat awal
kedatangan saya saya lebih sering berbelanja kebutuhan pokok di toko asia
(asiamarkt) ketimbang di supermarket jerman. Di toko asia, barang-barang
seperti sayur mayur, buah, dan kebutuhan lainnya harganya berlipat-lipat dari
harga di tanah air. Setiap kali melihat harga suatu barang dalam Deutsche Mark
(mata uang jerman saat itu), otomatis otak saya langsung merupiahkan
nominalnya. Terkadang, dengan melihat harganya saja, saya langsung stress.
Mahal banget.
Di minggu awal kedatangan saya, saya langsung kangen dengan masakan indo.
Apalagi, saya tak terbiasa mencoba jenis-jenis makanan baru. Makan spaghetti
ama pizza, bagi saya waktu itu terlalu asem, pasta tomatnya banyak banget.
Makanan lain, masih aneh di lidah. Jadi saya putuskan untuk berbelanja sayur
mayur di asiamarkt. Mulanya saya bahagia karena saya lihat banyak jenis bahan
makanan asia yang dijual, seperti ikan teri, ikan asin, beras, kacang ijo, buah-buahan, sayur, dll.
Tapi pas liat harganya, hah, gak salah nih. Masak 5 batang kacang panjang
harganya 2,20 DM (sekitar 15 ribu rupiah). Berarti 1 batang kacang panjang
harganya 3000 rupaih dong. Alamak. Kangkung lebih lagi. Seikat harganya hampir
5 DM (hampir 30 ribu rupiah). Weleh-weleh, stress. Sempat hampir saya urungkan
rencana makan sayur asem dan tumis kangkung. Namun kata suami, klo mo belanja
sesuatu jangan dihitung rupiahnya. Disini, harga segitu normal, lha wong barang
import. Saat makan sayur asemnya pun, saya masih juga menghitung, kira-kira
sepotong kacang panjang yang saya makan, harganya berapa ya?:(
Sekarang, belanja di toko asia merupakan
hal yang biasa. Paling tidak seminggu sekali kami berbelanja kesana.
Barang-barang kebutuhan pokok, cukup lengkap. Hampir tak ada toko asia yang
menjual indomie, makanan khas orang indo.:) Padahal, dulu saya pikir mencari
bahan makanan untuk masakan indonesia sangat sulit. Ternyata tidak. Bumbu-bumbu
pokok seperti bawang merah, jahe, ketumbar, kunyit, daun salam, sereh, dsb
tersedia. Sayur-mayur seperti caisim, sawi, kangkung, kacang panjang, cabe
rawit, labu siam, hingga kembang turi pun ada. Sayangnya sebagian besar
produk-produknya didatangkan dari thailand, vietnam dan belanda. Hampir semua
produk bahan makanan yang dikalengkan, seperti cincau, nagka muda, bambu muda,
produk-produk bumbu, sayur, buah, dsb berasal dari thailand dan vietnam. Dari belanda didatangkan, sayur, sambel oelek,
tempe, tahu, dan banyak lagi. Ada lagi
produk-produk makanan lain dari Malaysia, Singapore, China dan Phillippines. Dari indonesia,
setau saya indomie, bumbu indofood, kecap, dan beberapa macam produk, yang tak
terlalu banyak macamnya.
Terus terang saya sangat kagum terhadap
thailand. Agroindustrinya berkembang dengan pesat. Hasil pertanian yang
diekspor, mungkin kelihatan sepele bagi kita, misalnya kacang hijau,
sayur-mayur, cincau, nangka muda, bambu muda, daun sirih ataupun daun jagung.
Namun barang-barang sepele itu memiliki nilai jual yang cukup tinggi disini. Harganya
pun cukup mahal. Saya sedih, kenapa tanah air saya yang tidak kalah sumber daya
alamnya tidak bisa mengekspor produk-produk serupa. Negeriku yang kata orang gemah
ripah loh jinawi itu.
  
Selama di Jerman ini, ketika
bersama, maupun ketika saya pergi sendirian saya dan suami sering mendapatkan
suatu pertanyaan. Pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang kami
temui ketika berbelanja, ketika berjalan-jalan, maupun teman kerja atau kuliah.
Pertanyaan yang mungkin dipicu karena mereka melihat saya menggunakan hijab.
Yang bertanya adalah orang muslim lainnya yang berasal dari Turki, Iran, Syria,
dan Mesir. Pertanyaan yang sering diajukan itu adalah : Apakah kamu muslim?
Apakah kamu bisa membaca Quran? Apakah kamu sembahyang 5 waktu sehari?
Ketika kami menjawab ya, mereka terkejut, entah karena mereka merasa aneh, atau
respek, kami tak tahu.
Saya sendiri, have no idea
why they asked us like that? Di negara ini, biasanya orang cuek dan tak mau
tau, kita beragama atau tidak. Namun, pertanyaan-pertanyaan mereka terkadang
memicu saya untuk menanyakan hal yang sama kepada mereka atau kepada orang
lain. Biasanya yang saya tanyai adalah orang Turki, Afrika, atau orang yang
memiliki nama berbau Arab. Saya bertanya : Apakah anda muslim? Beberapa dari
mereka menjawab dengan bangga, dan mengucapkan alhamdulillah. Namun tak sedikit
yang jawabannya sering mebuat saya mengernyitkan dahi. Ada yang menjawab, ja
aber nicht ganz (ya, tapi nggak keseluruhan). Mungkin maksudnya, muslim
tapi nggak kaffah. Ada pula yang menjawab, saya 50 persen muslim. Kadang pula
ada yang menjawab, saya nggak terlalu muslim kok. Atau pernah seorang teman
suami saya menjawab, saya muslim, tapi saya nggak ingin orang lain tau kalo
saya muslim. Nah lho.
Saya jadi bertanya-tanya lagi, mengapa mereka
menjawab demikian. Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa sebenarnya mereka
merasa enggan dan malu jika orang- orang, terutama orang jerman mengetahui bila
mereka bergama Islam. Ah, jadi disitu tho masalahnya, pikir saya. Salahkah mereka jika merasa begitu? Malu, sehingga
tak mau menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Maraknya Islamophobia di
kalangan masyarakat eropa, adanya kesan yang mendalam bahawa Islam identik
dengan keterpurukan, kemiskinan dan terorisme, ataupun alasan lain yang mereka miliki, mungkin
merupakan penyebabnya.
Alhamdulillah, menurut pengalaman pribadi,
selama ini kami hampir tidak pernah mengalami kejadian yang kurang baik
sehubungan dengan keislaman kami. Mungkin ada beberapa orang yang sinis melihat
saya mengenakan hijab. Namun tak sedikit pula yang respek maupun berempati
kepada saya. Kami juga bisa menjalankan ibadah-ibadah seperti sholat, puasa,
dsb dengan tenang. Kami juga tidak merasa malu mengatakan
diri kami muslim. Menurut saya, kalo kita yang muslim merasa malu dengan
keislaman kita, maka, bagaimana mungkin kita menjadikan islam lebih maju dan
menjadi agama yang disegani? So, be proud to be a moslem!:)
Dan, semoga saja kita semua bisa ber-istiqomah dalam ber-islam. Insyaallah.
Selama ini, saya sadari atau tidak, sebagai orang tua saya belajar
banyak dari anak saya. Tepatnya, sebagai orang tua dan anak, kami
sama-sama belajar. Saat Syifa, anak saya masih bayi, saya belajar
mengenali kebutuhannya. Saat dia menangis, saya harus tahu, apakah
karena lapar, mengantuk, ataupun karena popoknya basah. Saat Syifa
tumbuh lebih besar, maka yang saya pelajari pun menjadi semakin banyak
dan kompleks. Karena sekarang, dia bukan bayi kecil yang cuma bisa
menangis, tapi sudah bisa menyampaikan keinginan dan pendapatnya
sebagai seorang anak kecil. Saya harus banyak belajar bagaimana menjadi
lebih sabar, terutama saat dia merajuk dan menginginkan sesuatu yang
tidak bisa saya turuti. Dan satu hal yang menurut saya sangat penting
adalah bahwa saya harus belajar untuk selalu konsisten atau istiqomah.
Belajar istiqomah ini menurut saya sangat penting, namun sangat sulit
untuk dilaksanakan. Seringkali saya menasehati Syifa macam-macam,
jangan begini, jangan begitu, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Tapi
terkadang saya lupa atau enggan, ketika akan menerapkan pada diri
sendiri. Padahal saya tahu, bahwa anak akan mencontoh apa-apa yang
dilakukan orang tuanya.
Alhamdulillah, tanpa disadarinya, Syifa juga sering mengingatkan ketika
saya berlaku tidak istiqomah. Misalnya saja, setelah sholat saya
berusaha membiasakan diri membaca ayat-ayat Al-Quran. Namun karena
alasan kemalasan atau kesibukan, saya pun memilih untuk tidak
membacanya. Seringkali Syifa yang memprotes, mami baca Quran dong! Atau
mami kok gak baca Quran sih? Atau ketika saya malas mengerjakan
sesuatu, Syifa bilang, mami kok malas? :(
Suatu ketika, seperti biasa, 2 minggu sekali kami harus
membersihkan(menyapu dan mengepel) tangga di depan apartemen. Saat itu
saya merasa capek, dan memutuskan hanya menyapu saja. Syifa langsung
protes dan menangis. Saya pun mengepelnya dengan terpaksa. Satu hal
lagi adalah menonton tivi. Saya membatasi jam menonton tivi Syifa,
dengan banyak alasan. Namun terkadang saya sendiripun ingin nonton
beberapa acara tivi, padahal Syifa belom tidur. Yang begini ini yang
sering menjadi dilema, dan sering juga saya langgar sendiri aturan
untuk menonton tivi.
Inilah beratnya beristiqomah. Kadang dengan seenaknya kita menetapkan
aturan tertentu pada anak, namun sering melonggarkan aturan untuk diri
sendiri alias menetapkan standar ganda. Namun, itulah yang harus saya
lakukan sebagai orang tua.
Allah dan Rasulnya pun memerintahkan kita beristiqomah, dalam segala hal, baik urusan akhirat maupun duniawi.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada
seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya,
“Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak
selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan
anugerah-Nya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).
Istiqamah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan
tetapi istiqamah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar
sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul.
Perhatikan ayat berikut ini:
“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat
beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Hud:112).
Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk
agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan
sikap itu. Allah menjanjikan demikian: "Dan seandainya mereka itu
bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan
kepada mereka air yang melimpah." (QS. Al-Jinn/72:16). Air adalah
lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka
yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang
bahagia.
Semoga saja saya bisa beristiqomah yang baik, salah satunya dalam mendidik anak. Insyaallah.
| |