Irawati (iprillia.multiply.com)

Journal

Blog EntryGerman Rotten Meat Around EuropeSep 2, '06 2:48 AM
for everyone

The new rotten meat scandal in South Germany grows in new dimensions. Fifty metric tons in Munich, 40 metric tons in Passau, and 37 metric tons in Regensburg. The Munich management supposes that scruffy product of a meat wholesaler has been sold not only all over the country, but also in the European Unions lands.

After the Munich wholesaler, a slaughterhouse in distric Deggendorf also got under vision of investigators. They are accused " considerable offence " with storage, processing and sales by meat, informed public prosecutor's office and police last Firday.

Already on Thursday the police guaranteed there 10,000 kilogrammes of doner kebab meat with which the durability data were partially crossed about four years. The health centre has called the product according to the first investigations as " rancid, musty, old and strange ". To the clarification of the case the criminal investigation department Munich furnished a special committee "Kühlhaus", means chill house.

The rotten meat from Munich has been imported from Thailand and from South America, according to an authority speaker. It is supposed not only nationwide, but also been sold in states of the European Union (EU). The federal states as well as the EU have been informed about it. In which EU states the spoilt product was delivered, is up to now unclear.

Only one day later, on Friday, 30 to 40 metric tons of suspicious duck's meat were confiscated. It was also sold according to police. Because the investigations go on, " the whole magnitude is not foreseeable yet ", said a speaker of the of a circle management seminar paper. Besides, there are clues that the scruffy product not only all over the country, but also in lands of the European Union has been sold, said the speaker.

At the same time in Passau the second meat scandal flew up in the administrative district: With a Deggendorf trader the police guaranteed 40 metric tons partially spoilt meat. The first knowledge confirmed the suspicion, " that meat was not able of pleasure in the meat company any more, was brought in trade in the past", according to the public prosecutor's office of Deggendorf.

In a chill house in Regensburg 37 metric tons of meat of the most different kind which should be shipped via Holland to Hong Kong camped down. " An already loaded transporter was stopped by the police and was unloaded again. " In a cold storage room not approved for commercial purposes under a garage in the administrative district Deggendorf the investigators found an other metric ton of meat. It is determined against the 53-year-old owner of the meat company of the suspicion of the deception and different offence against the food right.

Already last year several meat scandals had provided in Germany for sensation. Among the rest, partly rotten meat tests had been found with a Deggendorf meat trader. The public prosecutor's office food brought charges against a meat trader in Gelsenkirchen, in the meantime. As a consequence from the scandal the Federal Government has improved the rights for consumers and has put through a law which obliges, among the rest, authorities to more information about food.

The chairperson of the Green faction of the national parliament of the Federal Republique of Germany or Bundestag, Renate Künast, criticised the Federal Government and the person responsible in Bavaria. Thus place shortenings would have led in the free state apparently to the fact that the controllers " had insufficiently the finger on it ", said the former consumer protection minister. Besides, one cannot state in view of the case that her office successor Horst Seehofer (CSU party) has " his homework done ".

For consumer protection organization “Foodwatch”, Thilo Bode, the present laws are not enough to protect consumer against rotten meat. " Finally, the laws here which provide for more transparence have to do it. The names of the rotten meat companies must be published and the punishments must become harder, but nothing will change ", said the chairperson of the consumer's organisation in the " ZDF of midday magazine ". " It is important to understand that it concerns here a political problem and the consumers have much fewer rights than the food industry ", said Bode.


Blog EntryLao TzuSep 1, '06 5:18 AM
for everyone
Aku terkesan ama quote ini.

Lao Tzu : "A journey of thousand miles begins with a single step"

Blog EntryMembaca Germany Survival Bible di SpiegelApr 12, '06 4:41 AM
for everyone

Akhir-akhir ini saya rajin membaca Germany Survival Bible di surat kabar Spiegel-Online. Tulisan-tulisan berbahasa inggris ini ditampilkan oleh Der Spiegel dalam rangka menyambut Piala Dunia 2006. Tujuannya adalah untuk memberi informasi kepada para turis dan penonton Piala Dunia yang akan datang ke Jerman. Sebagian tulisan berasal dari auslaender (orang asing) yang tinggal di negara ini.

Banyak hal menarik saya temui dalam kumpulan tulisan mereka. Semuanya membuat saya mengetahui lebih jauh mengenai kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku disini. Misalnya, bagaimana disiplin a la Jerman. Atau apa yang mesti dilakukan ketika mengantri. Ada tulisan mengenai banyaknya anjing di negara ini serta anjuran berhati-hati ketika pergi ke taman, dan tempat-tempat umum karena kotoran anjing di mana-mana.

Ada tulisan mengenai kebiasaan menyetir orang Jerman yang merasa dirinya sebagai sopir terbaik di dunia. Banyak diantara mereka yang menjadikan jalan raya sebagai lintasan formula satu. Dan terdapat beberapa tips berkendara di autobahn alias jalan tol di akhir tulisan. Ada pula yang menulis tentang toilet Jerman, yang katanya berbeda dengan toilet di manapun di dunia. Di tulisan lainnya terdapat anjuran untuk membawa banyak uang tunai di banding uang plastik keika berkunjung ke Jerman.

Saya tersenyum ketika membaca tentang mahasiswa abadi Jerman. Menurut tulisan tersebut, rata-rata orang Jerman mulai kuliah ketika usia 23 tahun. Mereka menjadi mahasiswa abadi karena berbagai fasilitas, kemudahan dan kenyamanan yang diberikan negara. Mahasiswa menikmati asuransi murah, diskon untuk mengunjungi museum, tempat wisata, dll. Mereka juga bisa menggunakan kendaraan umum dengan harga yang jauh lebih murah. Tak heran jika sebelumnya, rata-rata mahasiswa Jerman baru lulus S1 ketika sudah berusia 30 tahun.

Jangan percaya jika ada orang Jerman bilang mereka tidak bisa berbahasa Inggris, menurut sebuah tulisan. Mereka belajar bahasa Inggris di sekolah, jadi semestinya mengerti bahasa tersebut. Yang terjadi sebenarnya adalah : they find it incredibly painful to risk imperfection. Jadi, saran penulis, be kind dan beri banyak pujian biar mereka mau berbahasa inggris.

Dan saya pun masih menunggu tulisan-tulisan berikutnya...........................


Blog EntryOrang Indonesia Boros Energi Sep 6, '05 1:53 PM
for everyone
Harian Ekonomi Neraca hari ini menampilkan data statistik yang menarik mengenai konsumsi energi orang Indonesia. Data yang ditampilkan dalam bentuk  perhitungan elastisitas (pertumbuhan konsumsi energi dibanding pertumbuhan ekonomi) dan intensitas (jumlah konsumsi energi per PDB). Dari hasil kedua perhitungan diatas, elastisitas dan intensitas energi di Indonesia termasuk paling tinggi dibandingkan Thailand, AS/Kanada dan Jepang. Artinya, orang Indonesia boros energi.  Padahal, konsumsi energi Indonesia tergolong kecil.

 

Elastisitas

Intensitas

Indonesia

1,84

400

Thailand

1,16

350

AS / Kanada

0,26

300

Jepang

0,10

200

Data dari Divisi Efisiensi Energi Pusat Teknologi Energi BPPT 2004

Saya sendiri tak terlalu heran dengan data diatas. Pengalaman diri sendiri maupun teman-teman dari Indonesia lainnya menunjukkan demikian. Dulu saat tinggal di apartemen mahasiswa, biaya langganan listrik kami lebih mahal daripada teman-teman yang orang Jerman. Diantara orang bule pun orang Indonesia terkenal boros energi.

Banyak cerita yang saya dengar tentang teman-teman setanah air, akibat penggunaan energi yang sedikit berlebihan. Seorang teman wanita saya pernah diusir oleh induk semangnya. Gara-garanya adalah karena teman saya ini setiap hari mandi, paling tidak sekali sehari, bahkan di musim dingin sekalipun. Bagi kita orang Indonesia, mungkin tak ada yang aneh, karena kita memang terbiasa mandi tiap hari, sehari dua kali. Tapi bagi orang Jerman, hal ini bisa dianggap pemborosan. Saat mandi, kita biasa menggunakan air panas. Dengan sering mandi, maka biaya energi membengkak. Dan karena induk semang teman saya ini nggak mau nombokin biaya energi yang besar nantinya, maka teman saya ini diusir.

Cerita lainnya, seorang ibu dari Indonesia terpaksa nombok lebih dari seribu euro untuk membayar tambahan biaya energi, karena suatu saat ibu ini pernah menyewakan rumahnya kepada beberapa mahasiswa Indonesia selama tiga bulan. Sebabnya adalah, orang-orang indoensia yang menyewa rumah si ibu ini rajin mandi dan masak. Teman keluarga kami yang juga mahasiswa juga mengalami kejadian yang hampir sama, diharuskan membayar tagihan energi senilai lebih dari 500 euro di awal tahun. Selain itu, masih banyak cerita lainnya seputar tagihan energi yang membuat puyeng di awal tahun. Kami sendiri, pernah kena tagihan energi 200 euro lebih di awal tahun. Kejadian ini membuat kami sebisa mungkin irit menggunakan energi (air, listrik, dan pemanas ruangan).

Banyak hal yang menyebabkan kita, orang-orang indonesia di jerman lebih banyak menggunakan energi dibandingkan orang jerman sendiri. Namun jika saya perhatikan, yang menjadi sebab utama adalah memang gaya hidup dan kebiasaan kita berbeda dengan orang jerman. Misalnya saja, di indonesia kita biasa mandi tiap hari, bahkan bisa dua kali atau lebih dalam seharinya. Orang indonesia seringkali mambawa kebiasaan itu saat tinggal di sini. Sedangkan orang jerman terbiasa tak mandi selama berhari-hari. Mau tak mau, kita menghabiskan air lebih banyak daripada mereka.

Contoh lainnya adalah kebiasaan makan dan masak. Masakan indonesia memerlukan waktu penyiapan dan waktu masak yang relatif lama. Sedangkan, orang jerman lebih suka makan makanan yang praktis, misalnya roti atau pasta. Kitapun cenderung lebih sering masak. Hal ini tentu saja  berpengaruh pada biaya energi, yakni pemakain listrik, air, maupun gas.

Begitu pun saat musim dingin. Karena kita berasal dari daerah tropis yang tak mengenal musim dingin, tentu saja daya tahan kita terhadap dingin berbeda dengan mereka yang sudah terbiasa hidup disini. Seringkali saya sudah merasa udara di luara sangat dingin, sedangkan di jalanan, orang-orang bule itu cuma mengenakan sweater yang tipis. Cuaca yang menurut saya sangat dingin, menurut mereka mungkin tak terlalu dingin. Di rumah, karena tak tahan dingin, kita pun menyalakan pemanas ruangan lebih sering dengan posisi maksimum (paling panas). Seorang teman bahkan merasa perlu untk menyalakan pemanas 24 jam sehari, meski dia tak ada di rumah, agar tak kedinginan.

Hal-hal diatas adalah beberapa contoh mengapa kita lebih boros energi dibanding orang jerman sendiri. Memang serba salah kalau sudah kebiasaan. Agak susah untuk mengubahnya.

Di Jerman, biaya energi adalah biaya yang kita keluarkan untuk listrik, air, pemanas, dan gas. Untuk air, dikenakan dua macam biaya, yaitu biaya pemakaian dan biaya pembuangan. Biaya pembuangan ini lebih mahal dari biaya pemakaian. Di Bremerhaven, kota tempat tinggal kami, biaya pembuangan air sekitar 3 kali lipat biaya pemakaiannya. Biaya energi yang kita keluarkan besarnya bisa sama atau lebih besar dari biaya sewa rumah itu sendiri, sehingga sering disebut sebagai biaya sewa kedua. Pembayarannya dilakukan setiap bulan dengan nominal yang sama. Di akhir tahun akan ada perhitungan, pemakaian kita yang sebenarnya. Jika uang yang kita bayar tiap bulan kurang, maka kita harus menambah. Sebaliknya, jika pemakaian kita sedikit, maka uang kita akan dikembalikan.

Dengan mahalnya harga minyak mentah, maka biaya energi di jerman dipastikan juga naik tahun ini sekitar 8-9 persen. Dan agar tidak puyeng bayar tagihan energi di awal tahun, memang sebaiknya kita berusaha menggunakan energi seefisien mungkin.


Blog EntrySail Bremerhaven 2005 : Day 4, Coctail PartyAug 14, '05 1:57 PM
for everyone
Hari ini, sabtu, cuaca cerah. Suhu Bremerhaven pun hangat, yaitu sekitar 20°C. Pagi harinya, saya masih kaputt (baca: kecapekan). Rencana, agak sorean kami ke Dewaruci. Beberapa kali telepon rumah berdering. Beberapa teman menelpon, menanyakan tentang acara Coctail Party yang akan dilaksanakan di atas Dewaruci, Sabtu sore ini. Sebelumnya, saya sudah mewanti-wanti beberapa kawan, agar datang ke pesta ini.

Saat kami berangkat sore harinya, hujan rintik-rintik mulai berderai di bumi Bremerhaven. Seperti kemarin juga, perlu perjuangan untuk mendapatkan bus kota yang menuju pusat kota. Setalah dua kali ditolak naik bus, alhamdulillah bus ketiga agak longgar. Jalanan macet. Bus bergerak pelan dan sering berhenti. Beberapa kali seorang teman yang datang bersama keluarganya menelpon, menanyakan, kapan saya akan sampai kesana.

Setelah cukup lama di jalan, kami sampai di halte tujuan, Hafeninsel, di dekat pelabuhan tempat pusat acara Sail 2005 berlangsung. Keluarga saya dan teman tadi bergabung menuju KRI Dewaruci. Pengunjung memnuhi pelabuhan. Kami berjalan merambat, pelan sekali. Di tempat-tempat tertentu seperti jembatan, kemacetan luar biasa terjadi.

Kapal Dewaruci dipenuhi tamu dan undangan, ketika kami tiba disana. nampaknya acara makan-makan telah dimulai. Tak banyak membuang waktu, saya langsung ikut antri. banyak sekali orang Indonesia yang datang. Beberapa diantaranya saya kenal. Kami mengobrol sambil mengantri bakso. Saya juga menemukan makanan yang sudah lebih dari 4 tahun tak pernah saya temui, yaitu 'lorjuk' (bahasa madura). Lorjuk ini berupa ikan kecil-kecil mirip teri yang digoreng. Beberapa petinggi kapal lain, dan beberapa orang bule ikut menghadiri pesta.

Sembari makan, kami disuguhi tarian-tarian daerah, seperti tari reog, dan tarian dari Sumatera barat. Para tamu tampak sangat antusias dengan penampilan para kru. Mereka sangat menikmatinya. Tampak binar-binar kekaguman di wajah mereka. Meski terjadi bebrapa kali terjadi insiden mati musik saat menari 'dinding ba dinding' para penari dan penonton tetap antusias. Acara makin semarak oleh tari poco-poco yang banyak juga diikuti para tamu.

Di luar kapal, pengunjung Sail lainnya menonton dengan rasa ingin tahu. Sebagian besar mereka ingin ikut masuk. Sebagian lainnya berusaha mengikuti gerakan poco-poco dari luar. Saya perhatikan, kapal-kapal lain tak seramai dan semeriah Dewaruci.

Pengunjung langsung membludak, saat acara party kelar, dan kapal dibuka untuk umum lagi. Para kru instruktur poco-poco sampai kuwalahan menghadapi mereka. Keramaian ini, berlangsung hingga pukul 22.30. Dengan berat hati, kru mengusir para pengunjung secara halus. Para kru kapal mesti bersiap-siap, karena besok pagi mereka harus bersiap-siap bertolak ke Amsterdam, mengikuti Sail Amsterdam. Jam sebelas, setelah ngobrol ngalor ngidul dengan kapten, kami menonton kembang api. Pertunjukan selama kurang lebih lima belas menit ini cukup spektakuler. Sayang sekali, baterai kamera kami low. Nggak bisa mengabadikan momen indah ini. Setelah kembang api kelar, semua kapal membunyikan klakson masing-masing selama beberapa menit.

Hiks, sedih juga besok pagi Dewaruci mesti pergi lagi dari Bremerhaven. Ada tawaran dari kapten agar kami menginap saja di kapal. Beberapa teman berencana begadang bersama para kru. Tapi kami memutuskan pulang, pada tengah malam yang hawanya menusuk tulang.


Blog EntryComing Soon : Sail Bremerhaven 2005Aug 6, '05 5:18 PM
for everyone

Pada tanggal 10-14 Agustus nanti ada event besar di Bremerhaven, yaitu Sail Bremerhaven 2005. Event yang akan diadakan untuk kelima kalinya  ini adalah sebuah Tallship Parade, yang akan dihadiri sekitar 200 kapal layar tradisional dan 100 kapal lainnya dari 26 negara. Bundeskanzler, Gerhard Schröder dijadwalkan datang pada tanggal 14 Agustus.

Beberapa negara yang mengirimkan kapalnya untuk mengikuti parade antara lain : IndonesiaIndia, Kesultanan Oman, Romania, Bulgaria, Italia, PortugalKolombia, USA, Ukraina, Rusia, dll. Satu setengah juta pengunjung diharapkan datang untuk menyaksikan even ini. Wakil dari Indonesia adalah KRI Dewaruci.

Menjelang Sail 2005 ini, berbagai persiapan telah dilakukan oleh Bremerhaven. Persiapannya terdiri dari persiapan jangka panjang dan jangka pendek. Persiapan jangka penjang meliputi renovasi berbagai sarana pendukung seperti jalan raya, tempat parkir, dan pelabuhan. sedangkan persiapan jangka pendek meliputi upaya-upaya untuk mempercantik wajah kota, dan menyelenggarakan berbagai acara pendukung,  Beberapa cara mempercantik wajah kota antara lain memasang bendera dari berbagai negara di  zone pejalan kaki di kota, membersihkan tempat sampah, dan lampu jalanan.

Kami senang melihat keadaan kota yang sedang semarak. Jalan-jalan yang kemarin sempat ditutup untuk diperbaiki, kini sudah mulai dibuka kembali. Salah satu gedung  yang terletak dekat dengan pelabuhan, tampak dikebut pembangunannya, agar sudah selesai pada saat Sail 2005 berlangsung.

Saya tertarik melihat program Acara yang akan berlangsung di internet. Selain itu, saya juga sudah tidak sabar melihat banyak kapal layar indah (liat di foto sih begitu)  dari dekat. Ada beberapa kapal layar yang menawarkan acara: berlayar bersama di bord mereka. Tapi, wow, harganya kok  mahal-mahal sekalee. Moga diijinkan naek Dewaruci aja deh (moga gretong, hehe). Dan semoga cuaca pada saat parade cerah ceria. Foto dan cerita mengenai event ini, insyaallah menyusul.:)



Sewaktu pulang dari wohnheim (asrama mahasiswa) sore tadi ada kejadian
yang menarik. Saat berjalan ke arah halte, dari kejauhan
terdengar  ''Tatu tata, tatu tata'' (suara sirene) beberapa mobil.
Ah biasa, pikir saya. Paling-paling ambulan.



Eh, suara-suara sirene itu makin mendekat. Saya melihat 2 mobil notartz
(dokter gawat darurat) berhenti beberapa puluh meter sebelum halte bus.
Mungkin ada yang sakit atau butuh pertolongan segera, pikir saya lagi.
Kira-kira semenit kemudian, datang 3 mobil pemadam kebakaran dan 2
ambulan dan 1 mobil polisi. Makin seru nih.



Beberapa petugas pemadam kebakaran berlari-lari ke gedung kejadian.
Mereka tampak panik saat masuk ke dalamnya.  Sebuah mobil dokter
tampak mondar-mandir. Mungkin mencari jalan, agar bisa masuk lewat
belakang gedung.



Saya memperhatikan peristiwa ini dari kejauhan. Bus sudah telat sekitar
lima menit  Mau ikut nonton, khawatir ketinggalan bus. Namun saya
lihat, busnya nggak mungkin lewat jalan itu, karena jalan yang mestinya
dilewati bus terhalang oleh 3 mobil pemadam kebakaran yang gede-gede
itu.



Sesaat kemudian, seorang pemuda memberuítahu saya, ''Sebaiknya anda
berjalan ke halte di ujung sana. Disini percuma, karena busnya cuma
bisa ngetem disana.''



Daripada kelamaan menunggu, akhirnya saya putuskan melihat aksi petugas
pemadam kebakaran dari dekat. Terus terang, ini pertama kali saya
melihat langsung mereka beraksi. Dua orang petugas tampak membawa
selang besar ke dalam gedung. Dari luar, tak tampak api atau asap
sebagai tanda telah terjadi kebakaran. Orang-orang di dalam gedung,
tampaknya sama sekali tidak panik. Beberapa orang di lantai dua dan
tiga gedung kejadian malah menonton aksi ini melalui jendela rumah
mereka. Dua orang sopir bus menghampiri seorang petugas untuk
menanyakan kapan mereka bisa melanjutka perjalanan. ''Tak ada sesuatu
yang buruk terjadi,'' kata seorang petugas yang baru keluar gedung.
Kami pun mulai membubarkan diri. Dan saya bergegas menuju bus. 



Kejadian ini hanya berlangsung sekitar 15 menit. Saya, sopir bus, dan
semua penumpang lega, karena akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan.
Di dalam bus, saya berpikir. Bagi saya, sepertinya kejadian tadi nggak
terlalu serius. Tapi mungkin para petugas itu tak menganggapnya
demikian. Buktinya, mereka mesti mengerahkan 3 mobil pemadam, walaupun
yang kepake cuma satu. Dokter dan ambulan juga tetap stand by, meski
saya melihat tak ada korban. Mungkin ini yang dinamakan ACT (Aksi Cepat
Tanggap). Cepat dan tanggap saat terjadi bencana.



Sayang saat itu saya tak membawa kamera. Sapa tau bisa foto sama
petugas pemadam kebakaran yang lagi beraksi. Kan bisa tak pamerin ke Mbak Endang
di Kanada. ^_^








Blog EntryHujan di BremerhavenJul 24, '05 7:20 AM
for everyone

Seorang teman mengeluhkan cuaca di Bremerhaven kemarin. Baru sekitar dua minggu dia tinggal disini untuk praktikum selama enam bulan. ’’Nggak nyangka deh, kalau musim panas bisa sedingin ini,’’ katanya.
 

Seminggu ini mendung hampir selalu menggantung di langit Bremerhaven. Hujan sering turun. Kadang gerimis, kadang lebat. Angin yang berhembus kencang, menambah dinginnya Bremerhaven. Suhu udara luar sekitar 13-16 °C.
 

Bremerhaven memiliki raa-rata curah hujan yang cukup tinggi, yaitu antara 800-900 mm per tahun. Rata-rata kecepatan angin di kota ini termasuk yang paling tinggi di jerman, yakni  5 m/s. Hujan disertai angin kencang sering terjadi di musim gugur dan awal  musim semi.
 

Terkadang ada sedikit kesal  pada cuaca Bremerhaven. Seringkali kali rencana kami gagalkan, karena cuaca yang kurang mendukung. Mau pergi belanja, hujan. Batal. Mau ke kampus males, karena hujan turun dengan derasnya. Sepertinya, hujan sangat berpengaruh pada mood saya. Melihat langit mendung atau saat hujan, mood saya jadi turun. Akibatnya, saya jadi lebih malas beraktifitas.
 

Suatu kali, saya pernah mengeluhkan tentang cuaca yang tak menentu, dan seringnya hujan di Bremerhaven pada seorang teman, yang sekarang telah kembali ke tanah air.
 

''Kita harus bersyukur tinggal di Bremerhaven yang sering hujan. Hujan itu berkah dari Allah. Sering hujan berarti lebih banyak barakah yang jatuh di kota ini. Insyaallah,'' katanya mengomentari keluhan saya.
 

Menurut Ahmad Mushthafa al-Maraghi, penulis Tafsir al-Maraghi, "berkah" dari langit mencakup pengetahuan yang diberikan Tuhan dan ilham (bimbingan)-Nya dan dapat pula berarti hujan dan semacamnya yang mengakibatkan kesuburan dan kemakmuran tanah.
 

Saya jadi malu. Bukannya bersyukur dengan rahmat Allah berupa hujan, malah mengeluh. Toh, sudah pilihan hidup saya sendiri untuk tinggal di kota ini. Dan selain hujan, masih banyak hal yang bisa dinikmati di kota ini. :) So I''ll try to enjoy it all.

 


Blog EntryZum zweiten Mal nach HelgolandJul 7, '05 6:51 PM
for everyone
Pada hari Sabtu 2 Juli lalu, untuk kedua kalinya kami ke Helgoland. Sama dengan tahun lalu, kami berangkat dengan tiket murah yang dikoordinir pihak kampus. Kami cukup membayar 5 euro per orang, dari harga asli 32,50 euro per orang. Sangat murah. Banyak pengalaman menarik dan berkesan selama mengikuti perjalanan ini.

Untuk sampai ke Helgoland, kami naik kapal feri besar bernama MS Atlantis. Kapal ini berkapasitas sekitar 1000 penumpang. Lebih kecil dari MS Helgoland (kapasiatas ca. 2000 penumpang) yang kami tumpangi tahun lalu. Meski lebih kecil Atlantis tak kalah nyaman. Kapal berkecepatan 18 knot ini memiliki tiga tingkat. Dilengkapi dengan bar, restauran, basar, tempat bermain anak, bahkan tempat berjemur.

Asyik juga memperhatikan berbagai aktivitas para penumpang. Sebagian menghabiskan waktu dengan memotret atau mengabadikan momen dengan handycam. Ada yang makan sambil mengobrol di restauran. Beberapa mahasiswa teman kami main kartu 'on board'. Ada yang tidur, ada yang berjemur. Perjalanan ke Helgoland yang ditempuh selama sekitar 3 jam sama sekali tak terasa membosankan. Beberapa kali terdengar suara kapten kapal menyapa penumpang lewat speaker. Kapten menjadi pemandu wisata selama di perjalanan, dengan memberitahu penumpang tentang hal-hal menarik di perjalanan.

Hari Sabtu lalu alhamdulillah cuaca cerah. Ombak di lautan tak terlalu kencang. Kami sampai Helgoland tengah hari. Kapal feri kami tak merapat sampai ke pulau. Kami mesti berpindah ke boot kecil untuk sampai disana. Asyik sekali naik boot kecil yang dimainkan gelombang.

Helgoland, pulau kecil seluas sekitar satu kilometer persegi ini mirip pulau batam.  Tax free.  Asal  kita  berbelanja  tak  melebihi  peraturan  yang  ditetapkan. Barang-barang yang banyak dijual adalah coklat, rokok, wine, parfum, dsb. Karena tahun lalu, kami sudah menjelajahi tempat-tempat belanja,  maka tahun ini kami berniat berjalan-jalan mengelilingi seluruh pulau.

Di Helgoland tak boleh ada kendaraan bermotor. Kendaraan yang ada menggunakan batere. Udaranya paling bersih se-jerman. Di pulau ini juga terdapat pusat penelitian biologi kelautan, dan tempat konservasi beberapa jenis burung.

Kami pun berjalan menikmati keindahan pulau. Melihat rumah-rumah yang arsitekturnya mirip dengan Skandinavia. Melihat dermaga yacht. Melewati taman. Bermain-main sebentar di pantai tempat beberapa orang sedang berjemur. Pulau kecil yang indah, pikir saya.

Setelah beberapa lama berjalan, sampailah kami di suatu tebing. Untuk sampai keatas kami mesti menaiki anak tangga berjumlah 260. Untunglah di tengah-tengah ada tempat duduk istirahat. Sampai diatas, ngos-ngosan.

Mengelilingi bagian atas pulau, pemandangannya semakin keren. Memandang laut lepas. Melihat ribuan burung yang bersarang di tebing pulau. Menikmati segarnya udara Helgoland. Mengabadikan keindahan dalam kamera.  Walau membawa  buggy  (kereta  dorong balita)  kami sama sekali tak mengalami  kesulitan. Ada  jalan khusus untuk pejalan  kaki yang  berkeliling pulau. 

Waktu yang sempit, membuat kami tak sempat menikmati wisata lain di sini, yaitu wisata belanja dan wisata kuliner (kayak Pak Bondan Winarno aja:) ). Kami hanya sempat berjalan-jalan sebentar di kota dan membeli beberapa batang coklat. Semoga saja tahun  depan masih diberi kesempatan seperti ini.

Kopi adalah minuman favorit orang Jerman. Jika dirata-rata, mereka minum sekitar 180 liter kopi per orang pertahun. Melebihi rata-rata bir, 150 liter per orang per tahunnya. Kopi dijual dimana-mana. Restauran, bar, kios. Jika tak bisa menemukan kedai makan, kopi bisa didapatkan di mesin otomatis dengan harga yang murah.

 

Ratusan merek kopi dengan berbagai aroma dijual disini. Harganya pun bervariasi, mulai sekitar 6 euro per kilo hingga 30 euro. Kopi yang paling mahal, ternyata adalah kopi Luwak Indonesia, yang harganya 50 euro lebih sekilonya. Hebat.

 

Saya pribadi sangat jarang minum kopi diluar rumah. Mahal. Mending minum di rumah. Saya minum kopi di luar ketika cuaca sedang dingin. Atau saat mengantuk di perjalanan. Hari minggu kemarin adalah pengecualian. Saya sekeluarga memutuskan ke cafe, sekalian mengadakan pengamatan untuk tugas deskripsi.

 

Di hari minggu di musim panas, pusat keramaian adalah cafe-cafe yang menjual es krim. Pilihan kami adalah cafe Orange di zone pejalan kaki persis di tengah kota.

 

Cafe Orange ini modelnya khas cafe-cafe Eropa. Sebagian besar bangkunya terletak di trotoar. Saat kami datang, suasana cafe tak terlalu ramai. Hanya 3 meja yang terisi termasuk meja kami. Kami duduk di bangku paling pojok, agar saya bisa mengamati dengan jelas. Seorang pramusaji wanita melayani nenek di sebelah meja kami. Pramusaji yang saya taksir berumur awal duapuluhan itu sangat cantik.

 

''Saya datang sebentar lagi'', katanya ramah pada kami. Kami melihat-lihat menu. Ada 13 macam menu eskrim spaghetti, 18 macam eskrim, dan 16 macam kopi. Es krim spaghettinya dicampur buah-buahan seperti kiwi, mangga, alpukat, dsb. Menu eskrim lainnya sebagian besar beraroma kopi. Kopinya sendiri terdiri dari capuccino, moccacino, latte macchiato, dan nama-nama asing lainnya.  Selain itu ada kue-kue, pizza dan roti isi.

 

Saya memesan eiskaffee, sementara suami saya memesan eskrim rasa macchiato. ''Maaf jika pesanan datang agak lama. Hari ini saya bekerja sendirian;'' kata sang pramusaji. ''Tak masalah'', jawab saya.

 

Sambil menunggu pesanan, saya mengamati cafe lebih jauh. Cafe ini diapit 2 toko pakaian wanita. Bagian dalamnya tak terlalu luas. Di bagian depannya adalah tempat eskrim. Nuansa oranye cukup kental di bagian dalam. Sesuai dengan namanya. Di bagian luar, yaitu di trotaor terdapat sepuluh meja yang masing-masing memiliki 4 kursi cafe. Kursi yang nyaman, dengan alas yang cukup empuk. Membuat orang betah berlama-lama disana. Di seberang cafe terdapat toko buku, dan toko roti. tak jauh dari situ ada sekumpulan air mancur. Atraksi air yang bervariasi mengundang beberapa orang menikmatinya. Beberapa anak kecil tampak bermain air. Menyenangkan. Orang berlalu-lalang melewati kami. Sesekali, burung merpati hinggap dekat dengan meja pengunjung.

 

Sekitar lima menit kemudian, pesanan kami datang. Hmmmmm, eskrimnya enak. Cantik sekali mereka menampilkannya. Wangi aroma kopi segera tercium dari minuman yang saya pesan. Segelas besar kopi yang dicampur dengan eskrim dan krim. Sluurrrppp nikmatnya. 

 

Sembari makan dan mengobrol, saya meneruskan mengamati. Saya mencatat beberapa hal yang saya anggap penting. Nenek disebelah beberapakali mencuri pandang ke arah kami. Dua meja lagi terisi. Dua pasang manula duduk di bangku sebelah kiri kami. Tiga orang lagi duduk agak jauh dari kami. Sebagian besar memakai baju tanpa lengan. Hal yang sangat biasa di musim panas begini.


Blog EntryKampanye Anti Kotoran AnjingJun 28, '05 4:04 PM
for everyone

Kota tempat kami tinggal sekarang adalah kota kecil. Kota ini berpenduduk sekitar 112 ribu jiwa. Karena kecilnya, teman-teman yang tinggal di kota lain, sering menganggapnya sebagai desa atau kampung. Jerman tapi kampung. Sarana transportasi umum yang ada hanyalah bus kota. Tak ada tram, apalagi U-Bahn (subway). Angka penganggurannya pun, terbilang cukup tinggi, yakni 20 persen. Penduduknya agak cuek terhadap peraturan. Misalnya saja, mereka seringkali menyeberang sembarangan, jarang mengenakan sabuk pengaman ketika mengemudikan mobil, menelpon saat mengemudi, dsb. Satu hal lagi, kota ini terbilang agak jorok dan terkesan kumuh.

 
Sampah-sampah berserakan di beberapa tempat. Yang lebih menjengkelkan adalah bayak para pemilik anjing yang membiarkan anjingnya membuang kotoran di sembarang tempat, tanpa membersihkan setelahnya. Jalan, taman, di bawah pohon-pohon boulevard adalah tempat-tempat dimana kotoran anjing sangat sering di jumpai.

 
Tentu saja hal ini sangat mengganggu. Pagi hari yang cerah dan menyegarkan, tercemari oleh bau kotoran. Jika berjalan-jalan, mesti berhati-hati agar tak meginjaknya.  Sebenarnya telah ada perda yang mengharuskan pemilik anjing untuk membersihkan kotoran anjingnya ketika buang hajat di tempat umum. Namun, nampaknya peraturan ini lebih sering dilanggar daripada ditaati. Sejak peraturan diberlakukan beberapa tahun yang lalu, kotoran anjing, tetap saja berserakan. 


Kemarin saat bersepeda sendirian melewati sebuah boulevard dekat rumah, saya menumpai sesuatu yang unik.  Di sepanjang boulevard itu banyak saya jumpai bendera-bendera kecil berwarna merah dan kuning. Saya yang penasaran mendekati bendera-bendera tersebut. Pada bendera tertulis  pfuiiiii  dan  iiiiigitt. Di bawah tiap bendera adalah kotoran anjing.  Mungkin ada yang demo kotoran anjing nih, pikir saya saat itu.

 
Saat saya membaca surat kabar lokal hari ini, ada berita tentang  kampanye anti kotoran anjing di jalan yang kemarin saya lewati.  Masyarakat di sekitar situ sudah sangat jengkel pada para pemilik anjing yang tak bertanggung jawab. Selain kampanya ada pendataan ulang jumlah anjing di kota ini.  Disebutkan, bahwa jumlah mereka yang didata adalah 3909 ekor anjing. Diperkirakan, bila seekor anjing menghasilkan kotoran seberat 300 gram sehari,  semuanya akan menghasilkan satu ton lebih setiap harinya. Semoga saja pemerintah daerah segera mengambil langkah yang tepat untuk menanganinya.

 


Blog EntryMedia Massa Jerman dan Presiden IranJun 25, '05 5:59 PM
for everyone

Kemarin, 25 Juni 2005, terpilihnya Presiden Islamic Republic of Iran, Mahmud Ahmadinedschad, menjadi headline di beberapa media massa di Jerman. Semua media massa tersebut, menyebutkan bahwa terpilihnya Ahmadinedschad, sebagai hal yang megejutkan, dan di luar dugaan, karena mereka memprediksi, Rafsanjani-lah yang akan menduduki kembali kursi kepresidenan di Iran. Tak kurang 3 media besar yang menjadikan hasil pemilu Iran sebagai headline. Diantaranya adalah Stern, Die Zeit dan Focus Magazine. Beberapa media online seperti gmx.net dan freenet.de juga menjadikan pemilu ni sebagai berita utama. Bahkan surat kabar harian di kota kecil tempat kami tinggal, Bremerhaven, Nordsee Zeitung juga menampilkannya sebagai headline, lengkap dengan potret, siapa sebenarnya Ahmadinedschad. Rupanya media massa Jerman, cukup antusias mengikuti proses Pemilu di Iran kali ini.

Stern Magazine, menampilkan dua judul utama, yaitu Der Westen kritisiert Präsidenten-Wahl (Barat Mengkritik Pemilihan Presiden) dan Der Präsident, der aus dem Nichts kam (terjemahan bebasnya : Presiden yang Tak Bermodal). Stern menyebutkan bahwa terpilihnya Mahmud Ahmadinedschad menjadi presiden terbaru Iran telah menimbulkan kritik di dunia barat, terutama oleh AS, Inggris dan Jerman.  Disebutkan juga, presiden yang menyabet 61,8 persen suara ini sebagai orang yang tidak memiliki pengalaman dalam politik luar negeri. Selain itu, Ahmadinedschad yang kontra terhadap politik reformasi-nya Presiden Mohammed Chatami, dianggap akan menjadi sandungan terhadap liberalisasi dan demokratisasi Iran, karena adanya keinginan Ahmadinedschad untuk menerapkan hukum Islam yang lebih ketat. 

Die Zeit memuat berita ini dengan judul Konservativer Hardliner regiert künftig den Iran (Konservatif Garis Keras Memerintah Iran). Memuat komentar menteri luar negeri Inggris yang menyatakan, bahwa pemilihan presiden Iran mengalami 'defisit'. Straw mengkritisi, proses pemilihan, dimana rakyat tidak bisa benar-benar bebas memilih orang-orang yang dikehendaki pada tahap pemilihan awal. Straw juga berharap presiden baru Iran akan segera meng-handle program atomnya, memerangi terorisme, dan memberi perhatian pada hak asasi manusia dan proses pembebasan Nahost. Selanjutnya, Die Zeit juga memaparkan reaksi AS atas terpilihnya presiden Mahmud Ahmadinedschad. AS menganggap terpilihnya presiden baru ini, merupakan langkah mundur demokratisasi. Sedangkan, Uni Eropa juga mengkritik proses pemilu Iran. menurut EU, Iran harus memulai reformasi politik dan sosial. Mereka juga mengkhawatirkan tentang hak-hak asasi manusia di Iran, Program Atom, terorisme dan proses perdamaian nahost.

 
Di Focus Magazine, menteri luar negeri Jerman, Joschka Fischer juga mengkritik proses pemilu Iran, yang menurutnya cacat. Lebih jauh, Fischer menjelaskan, bahwa kelanjutan kerjasama ekonomi dengan Iran tergantung pada kepercayaan international terhadap Iran, untuk lebih 'membuka' dirinya terhadap dunia.

 
Melihat cukup gencarnya pemberitaan media massa jerman tentang pemilu Iran ini, menyiratkan adanya perhatian terhadap bangsa Iran. Saya juga menangkap adanya ketakutan dari
barat, dan  menganggap presiden Amadinedschad sebagai orang yang ultrakonservatif. Stern juga menulis, bahwa meski dia tidak kelihatan seperti mullah, namun, tidak kalah religius.

 

 
PS: Buat Mbak Dina, tulisan ini sebagai pembanding saja, antara pemberitaan di jerman, dan kenyataan yang terjadi di Iran. Semoga, Iran menjadi semakin baik, dengan terpilihnya presiden Mahmud Ahmadinedschad (ejaan jerman nih).



 

Blog EntrySia-SiaJun 16, '05 8:16 AM
for everyone
Wah lupa, nasi udah basi dalam rice cooker. Padahal sisa nasi masih banyak di dalamnya. Saya menyesal sekali. Menyesal karena telah lalai. Sekarang kan sudah memasuki musim panas. Sebagian besar makanan yang sudah masak, sudah harus di masukkan ke dalam lemari pendingin, agar awet. Saat musim dingin, makanan lebih awet meski dibiarkan selama beberapa hari. Tapi sekarang, ah mau bagaimana lagi, harus dibuang.

Kalau saya renungkan lagi, banyak sekali saya menyia-nyiakan hal-hal kecil selama ini. Seringkali  masakan saya jadi hangus, gara-gara  keasikan di depan komputer. Atau bahan-bahan makanan yang disimpan membusuk, sebelum sempat dimasak. Sering juga saya biarkan air keran mengucur meski tidak saya gunakan. Di musim dingin, saya juga beberapa kali lupa mematikan pemanas ruangan atau membiarkan komputer menyala ketika keluar rumah.

Ah ternyata saya telah banyak membiarkan hal-hal kecil menjadi sia-sia. Padahal, dibelahan bumi yang lain, hal-hal kecil yang  telah saya sia-siakan mungkin sangat berguna bagi mereka. Makanan yang saya buang, mungkin bisa mengganjal perut mereka yang kelaparan. Air yang saya buang pun, tentu sangat berharga bagi mereka yang kekurangan. Listrik, disaat banyak orang belum menikmatinya,  saya malah memanfaatkannya untuk hak yang tidak berguna. Astaghfirullah hal adziim. Betapa rasanya saya kurang mensyukuri semua yang saya dapatkan. Jika hal-hal kecil saya seringkali saya sia-siakan, bagaimana saya mensyukuri sesuatu yang besar.

'Dan Dia telah memberikan untukmu keperluanmu dari segala yang kalian mohon kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian memperkirakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan mengingkari nikmat Allah. (QS Ibrahim: 34)'

'Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidah menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.'

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman…yaitu…(dan) orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna" (QS. Al-Mukminun, 23 :1&3)

Padahal semua yang  kita lakukan dan dapatkan, harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah nantinya. Ah, bagaiaman nanti saya mempertanggungjawabkan semua yang telah saya sia-siakan. Waktu, harta, perkataan, semuanya.:(

Dalam kitab Wabil ash-Shayyib, Ibnu Qayyim  al-Jauzi menjelaskan salah satu keutamaaan berzikir. Beliau menyebutkan, selama lidah kita sibuk berzikir, maka selama itu pula ia akan terhindar  dari perbuatan sia-sia, berbohong, ghibah,  senda gurau, dsb.

Ya, Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu-bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Dan masuklah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (QS an-Naml: 19)

Ya Allah, jauhkan segala kesia-siaan dalam hidup kami. Amin.



Blog EntryWelcome to The JungleJun 13, '05 7:38 AM
for everyone
'I will try a new adventure in jungle' demikian tulis salah seorang teman semasa SMA saya di message. Teman saya ini bulan depan akan kembali ke indonesia setelah sekitar 6 tahun belajar di Amerika. Dia berencana membuka usaha sambil bekerja di Indonesia. Katanya, dia sudah bosan hidup di Amerika dan mencari tantangan baru di tanah air. Saat dia mengutarakan keinginan untuk pulang ke tanah air beberapa bulan sebelumnya, memang  saat itu saya yang mengatakan dengan nada guyon, 'Welcomeback to the jungle'. Dia hanya tertawa saja saat mendengarnya. Itu juga yang dikatakan teman saya yang lain, ketika kembali ke indonesia, 'I will go back to the jungle.' Saya yakin, dia tidak bersungguh-sungguh saat itu.

Saya sendirijuga  yakin, bahwa Indonesia sebenarnya
'not that wild,  like a real jungle'' lah. Karena menurut pengalaman, beberapa teman bahkan jauh lebih sukses ketika kembali ke tanah air. Namun, istilah jungle, mungkin ada benarnya juga jika melihat kondisi di tanah air. Rasa-rasanya banyak sekali peristiwa yang menunjukkan pada kita, bahwa yang kuatlah yang akan menang. Hukum yang berlaku mirip hukum rimba. Yang berduit, dialah yang berkuasa. Yang kaya berhura-hura, menghamburkan uangnya, sedangkan kaum miskin papa, berkutat menyelesaikan permasalahannya sendiri. Belum lagi masalah ketidakteraturan disana-sini. Di jalanan, orang seenaknya sendiri. Ngurus apa-apa, birokrasi mbuletnya minta ampun.

Kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studi di luar negeri merupakan pilihan yang mulia dan sangat patut untuk dihargai. Bagaimana tidak, dengan adanya kemungkinan  untuk bekerja di luar negeri dengan gaji yang jauh lebih tinggi, eh malah memilih mengamalkan ilmu di negeri sendiri. Ditambah lagi kenyamanan dan keteraturan hidup.

Indonesia sendiri sebenarnya merupakan salah satu negara  yang mengalami  'brain  drain'  yang cukup parah, akibat banyak  tenaga ahlinya  yang  tidak mau kembali  untuk bekerja di indonesia. Namun indonesia masih memiliki berjuta potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Berbeda dengan negara-negara maju yang cenderung statis perkembangannya.


Akhirnya saya, cuma bisa berdoa untuk teman saya, semoga sukses membangun tanah air tercinta. Sehingga nantinya, jika ada yang akan kembali ke tanah air, yang terucap adalah,  'Welcome to paradise!' Amin. Terlalu muluk nggak ya impian ini?


Blog EntryManusia-Manusia TangguhJun 10, '05 4:14 PM
for everyone

Apakah yang menjadikan sesorang menjadi manusia yang tangguh? Apakah kekayaan dan kehidupan yang nyaman? Ataukah hidup serba berkecukupan dan rasa aman? Ternyata jawabannya adalah bukan. Mengapa bukan? Lihat saja orang-orang eropa barat ini. Sedari mereka lahir, sebagian besar dari mereka hidup berkecukupan. Hampir tidak mengenal apa itu kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan. Hidup mereka makmur, teratur, dan aman. Pendidikan, dapat diperoleh dengan mudah asal ada kemauan. Sarana umum, seperti transportasi, perpustakaan, kesehatan, lengkap. Kalau sedang bangkrut dan tak punya uang, maka negara akan membantu.

Saat ini, beberapa negara di eropa barat tak semakmur dulu. Tengok saja jerman, belanda, dan perancis. Mereka merasa kehidupan mereka sekarang tak semakmur sebelumnya. Pengangguran meningkat tajam, angka kemiskinan dan kejahatan merambat naik. Yang terjadi kemudian adalah semakin maraknya demonstasi  menuntut perbaikan nasib. Rakyat dan pemerintah sama-sama frustasi. Mengapa mereka frustasi? Sebenarnya, saat ini mereka sedang dilanda rasa takut. Sang rakyat takut tak punya pekerjaan, takut tak memiliki uang dan harta, takut tak bisa hidup nyaman dan layak. Pemerintah pun dianggap tak becus mengurusi rakyatnya. Mereka sama sekali tidak bisa disebut sebagai manusia-manusia yang tangguh. Mereka memang tampak sebagai orang yang penuh percaya diri. Namun, sekali mengalami kegagalan, mereka langsung goyah, dan ketakutan.

 

Sekarang bandingkan dengan rakyat Palestina. Rakyat yang hidupnya dalam penindasan, kesusahan, dan kemiskinan. Bangsa Palestina adalah bangsa yang tidak mau tunduk dan menyerah begitu saja terhadap agresor yang datang ke negeri mereka dan melakukan penindasan terhadap mereka. Bangsa Palestina di masa lalu telah bangkit berjuang dan akan selalu tegak berjuang mengusir penjajah dan perampas tanah air mereka. Rakyat Palestina berjuang dengan menggunakan batu dan bom-bom sederhana rakitan sendiri. Namun demikian, mereka tetap tegak berdiri di depan tank-tank baja dan peralatan militer canggih rezim Zionis yang menguasai tanah Palestina sejak 1948. Rezim zionis sering menggunakan taktik menghina, menyiksa, dan menekan rakyat Palestina dalam aksi-aksi mereka. Kini, ribuan rakyat Palestina mendekam di penjara-penjara Zionis dan mengalami penyiksaan. Demikian juga, setiap hari, tentera rezim Zionis menyerang kawasan pendudukan dan mengakibatkan orang-orang Palestina gugur syahid dan luka-luka. Rezim Zionis juga menekan perekonomian bangsa Palestina.

 

Namun, kondisi yang mengecewakan rakyat Palestina ini tidak serta merta membuat mereka menjadi lembek. Mereka sangat bangga jika bisa melakukan sesuatu bagi negaranya. Mereka militan. Semakin keras bangsa israel menekan, semakin keras juga mereka melawan. Merekalah manusia-manusia tangguh. Berada dalam keadaan yang serba kekurangan, dan  keterbatasan telah melahirkan manusia-manusia tangguh yang sesungguhnya.  Wallahualam.


Blog EntryUntukmu, LingkungankuJun 5, '05 6:02 PM
for everyone
Hari ini berjalan seperti biasa bagi saya. Tidak ada yang terlalu istimewa sebenarnya. Sore baru balik ke rumah lagi setelah weekend ini numpang bobo di rumah salah seorang teman mahasiswi. Baru nyadar ada something setelah nonton berita di tv tentang peringatan hari Lingkungan Hidup sedunia di Berlin. Mereka merayakan hari Lingkungan Hidup dengan mengadakan kampanye dan pawai bersepeda. Ah ya pikir saya. Sebenarnya sejak kemaren-kemaren saya ingin menulis jurnal tentang lingkungan. Topik yang mungkin kurang menarik buat kebanyakan orang, namun cukup menarik bagi saya. Mungkin karena kebetulan saya pernah berkuliah di Jurusan Teknik Lingkungan di salah satu PTN di surabaya.:)

Dulu sekali, sebelum kuliah pengetahuan dan kesadaran saya tentang lingkungan rendah sekali. Buang sampah suka sembarangan, disuruh menyapu dan bersih-bersih rumah, males banget, kemana-mana maunya pake kendaraan bermotor, meskipun deket banget.

Sejak kuliah, pengetahuan tentang lingkungan semakin banyak. Parkteknya, sedikit lebih baik. Saya selalu sewot klo ada yang buang sampah sembarangan. Cerewet klo mama banyak pake zat aditif saat masak. Trus, kemana-mana, asal deket, saya lebih suka jalan kaki, agar hemat BBM. Sampai-sampai, klo ada pertemuan keluarga, banyak sodara yang menyindir. Sssst, ati-ati jangan sampe membuang sampah sembarangan, ntar diomelin ama menteri lingkungan hidup, kata mereka. Meski begitu, saya rasa, lebih banyak teori yang saya terima, daripada praktik yang saya lakukan.

Di lingkungan tempat tinggal saya dulu, di daerah keputih, sukolilo, surabaya, sebenarnya bukan tempat yang terlalu ideal untuk ditinggali. Sekitar 1,5 kilometer dari tempat saya tinggal ada TPA alias Tempat Pembuangan Sampah Akhir Keputih. Disanalah sampah warga surabaya ditimbun dan ditimbun secara open dumping. Mereka punya incinerator unuk membakar sampah, namun saat itu alat tersebut rusak. Timbunan sampah itu hanya dibakar untuk mengurangi volumenya. Tak jarang, asap hitam hasil pembakaran harus saya hirup jika angin berhembus ke arah perkampungan tempat saya tinggal. Pun bau sampah yang mulai membusuk, menusuk-nusuk hidung. Lebih parah lagi setelah hujan. Baunya, pfuih, seringkali menghilangkan selera makan. Suhu surabaya yang sangat panas, juga merupakan tempat yang cocok bagi nyamuk untuk berkembang biak. Ditambah lagi saluran terbuka di muka rumah, airnya selalu tergenang, sangat kotor dan bau.
Jutaan nyamuk berkembang biak setiap hari disana. Hidup disini, membuat saya selalu merasa, apa yang saya lakukan buat lingkungan tak ada artinya. Toh tak ada yang peduli.

Alhamdulillah, kemudian Allah memberi saya kesempatan untuk tinggal di negeri ini. Disini, saya belajar banyak hal tentang lingkungan, dan bagaimana mencintai lingkungan. Bisa dibilang disini, hampir semuanya serba teratur. Awalnya berat juga untuk menjadi teratur. Buang sampah misalnya, mesti dipisah-pisah dulu. Di rumah paling tidak ada 3 jenis tempat sampah untuk sampah yang berbeda, sampah dapur, sampah kertas, dan sampah lain-lain. Awalnya saya malas, memisah-misah sampah, sampai disindir sama suami. Kuliahnya aja di teknik lingkungan, masa misahin sampah buat di-recycling males, komentarnya.
Disini, tak pernah saya jumpai kendaraan bermotor  berasap hitam, karena tiap kendaraan bermotor mesti dipasangi filter. Paru-paru kota ada dimana-mana, bahkan ada hutan di tengah kota.

Saya sendiri, di lingkungan yang seperti ini semakin terbawa  untuk lebih concern terhadap lingkungan. Yang kami lakukan sebenearnya hal-hal sepele, misalnya memilah sampah seperti yang telah saya sebutkan, memilih detergen yang lebih mudah didaur ulang, dan di musim dingin, menghidupkan heizung (pemanas) seefisien mungkin, untuk menghemat energi dan biaya. Untungnya informasi dan berbagai tips mengenai program cinta lingkungan dapat dengan mudah kita dapatkan melalui brosur, buku, dan internet.

Dulunya saya pikir, pantas saja, mereka bisa hidup bersih begini, lha pemerintahnya yang bagus dan perhatian sama lingkungan. Namun, pemikiran saya ini, ternyata tak sepenuhnya benar. Karena saya sadari kemudian, tanpa kesadaran setiap individu, program-program pelestarian lingkungan akan sangat sulit untuk diwujudkan. So sekecil apapun yang kita lakukan untuk lingkungan, akan ada manfaatnya, paling tidak untuk diri kita sendiri.




Blog EntryWeblog in der ZeitJun 1, '05 10:50 AM
for everyone

Hampir tiada hari yang saya lewatkan tanpa membaca surat kabar online. Tak kurang 7 surat kabar (Republika, Jawapos, Kompas, Stern, der Spiegel, die Zeit, dan Nordsee-Zeitung) berbahasa indonesia maupun jerman saya baca setiap harinya. Membacanya sudah menjadi kebutuhan bagi saya. Memang tidak semua berita saya baca, melainkan headline atau berita-berita lain yang menarik hati. Sekedar melepas rasa ingin tahu saja. Sejak sekitar seminggu ini, saya menemukan sebuah tabloid mingguan versi online menarik bernama die Zeit. Die Zeit sendiri berarti time atau waktu. Mungkin versi lain majalah Times. Beberapa tahun yang lalu saya beberapa kali membaca die Zeit versi cetak hasil pinjaman dari seorang teman yang berlangganan. Isi die Zeit bagi saya sangat menarik. Membacanya selalu mendapat hal-hal baru yang mencerahkan. Tabloid ini isinya lumayan serius dan sarat pengetahuan, jadi membaca versi cetaknya membutuhkan energi yang sangat besar, terutama karena masih banyak kata-kata dalam bahasa jerman yang belum saya mengerti. Dalam satu terbitannya die Zeit memuat banyak sekali topik. Mulai topik politik, ekonomi, sosial budaya, travelling, ilmu pengetahuan dan beberapa topik lainnya. Edisi cetaknya cukup tebal. Nah, hal menarik yang saya temukan di die Zeit versi online adalah bahwa dia memiliki weblog alias blog.

Mengapa  weblog-nya menarik bagi saya? Karena blog di surat kabar bagi saya merupakan fenomena tersendiri. Baru kali ini saya mengetahui ada weblog di surat kabar. Weblog-nya sendiri menjadi semacam surat kabar dalam surat kabar. Redaktur mereka bekerja sama dengan blogg.de menawarkan  berita, tulisan, catatan, dalam bentuk blog. Jadi kita membaca berita seperti membaca blog, dan bisa langsung memberi komentar. Komunikasi antar penulis dan pembaca menjadi 2 arah, berbeda dengan surat kabar online konvensional. Ragam isi dan topiknya pun tak jauh berbeda. Memang tak sebanyak topik di surat kabar online biasa. Topiknya antara lain topik umum, politik, ekonomi, pengetahuan, budaya, travelling, gaya hidup, dan journalisme. Lumayan banyak kan?

Di topik umum ada  blogger salon  yang memuat  berita-berita  dari redaktur langsung.  Fundsachen berisikan,  berisi tentang penemuan-penemuan /kejadian-kejadian unik yang dialami  redaksi.  Dalam topik politik  ada  2 blogger,  berjudul  Beruf Terrorist  oleh seorang ahli hukum, dan  Im Moloch Kairo,  oleh seorang mahasiswi  jerman yang menceritakan kehidupan sehari-seharinya di Kairo. Ada Geldseligkeiten di blog tentang ekonomi, membahas tentang keuangan. Ada 2 blog mengenai ilmu pengetahuan, yaitu  Megawatt dan Zeitwissen:log. Ada pula Music und so dalam blog tentang budaya. Transamerica, tentang satu keluarga jerman yang berkeliling amerika dengan menggunakan caravan, dlam blog bertemakan travelling.  Ada pula beberapa blogger bertemakan gaya hidup dan jurnalisme.  Blogger-blogger ini rata-rata merupakan orang yang memang  ahli di bidangnya. Di weblog di Zeit juga dicantumkan link-link ke blog lainnya yang dianggap menarik dan relevan dengan topik yang dibahas. Satu lagi yang menarik di weblog adalah bahwa ternyata tiap tahun mereka mengadakan kompetisi untuk menentukan blog-blog berbahasa jerman terbaik, yang dinamai Preisbloggen. Yang dinilai adalah desain blog, isi yang menarik sesuai dengan keahlian blogger.

Adanya weblog di surat kabar ini  bagi saya membuka era baru bagi para blogger.  Kini blogger  mesti dipandang lebih serius,  tidak hanya  sebagai pengisi buka harian di internet saja.  Bisa saja, berkembangnya  jumlah para blogger ini memicu berkembangnya freelance online journalist, sehingga  suatu saat nanti blogger  diakui sebagai profesi  di dunia nyata, so bukan sekedar hobi lagi. Menurut saya, hal ini bukan suatu kemustahilan karena meskipun pengguna internet di indonesia masih berkisar 3,6 % (data tahun 2004), namun pertumbuhan pengguna internet dunia sebesar 144 % lebih per tahun menjadikan saya lebih optimis.:)

Vivat Blogging! Vivat Blogger!

 


Blog EntryBelanja di AsiamarktMay 31, '05 6:16 AM
for everyone

Wah, mahal-mahal banget. Itulah kesan saya saat berbelanja di awal kedatangan saya disini. Apalagi saat awal kedatangan saya saya lebih sering berbelanja kebutuhan pokok di toko asia (asiamarkt) ketimbang di supermarket jerman. Di toko asia, barang-barang seperti sayur mayur, buah, dan kebutuhan lainnya harganya berlipat-lipat dari harga di tanah air. Setiap kali melihat harga suatu barang dalam Deutsche Mark (mata uang jerman saat itu), otomatis otak saya langsung merupiahkan nominalnya. Terkadang, dengan melihat harganya saja, saya langsung stress. Mahal banget.

Di minggu awal kedatangan saya, saya langsung kangen dengan masakan indo. Apalagi, saya tak terbiasa mencoba jenis-jenis makanan baru. Makan spaghetti ama pizza, bagi saya waktu itu terlalu asem, pasta tomatnya banyak banget. Makanan lain, masih aneh di lidah. Jadi saya putuskan untuk berbelanja sayur mayur di asiamarkt. Mulanya saya bahagia karena saya lihat banyak jenis bahan makanan asia yang dijual, seperti ikan teri, ikan asin,  beras, kacang ijo, buah-buahan, sayur, dll. Tapi pas liat harganya, hah, gak salah nih. Masak 5 batang kacang panjang harganya 2,20 DM (sekitar 15 ribu rupiah). Berarti 1 batang kacang panjang harganya 3000 rupaih dong. Alamak. Kangkung lebih lagi. Seikat harganya hampir 5 DM (hampir 30 ribu rupiah). Weleh-weleh, stress. Sempat hampir saya urungkan rencana makan sayur asem dan tumis kangkung. Namun kata suami, klo mo belanja sesuatu jangan dihitung rupiahnya. Disini, harga segitu normal, lha wong barang import. Saat makan sayur asemnya pun, saya masih juga menghitung, kira-kira sepotong kacang panjang yang saya makan, harganya berapa ya?:(

Sekarang, belanja di toko asia merupakan hal yang biasa. Paling tidak seminggu sekali kami berbelanja kesana. Barang-barang kebutuhan pokok, cukup lengkap. Hampir tak ada toko asia yang menjual indomie, makanan khas orang indo.:) Padahal, dulu saya pikir mencari bahan makanan untuk masakan indonesia sangat sulit. Ternyata tidak. Bumbu-bumbu pokok seperti bawang merah, jahe, ketumbar, kunyit, daun salam, sereh, dsb tersedia. Sayur-mayur seperti caisim, sawi, kangkung, kacang panjang, cabe rawit, labu siam, hingga kembang turi pun ada. Sayangnya sebagian besar produk-produknya didatangkan dari thailand, vietnam dan belanda. Hampir semua produk bahan makanan yang dikalengkan, seperti cincau, nagka muda, bambu muda, produk-produk bumbu, sayur, buah, dsb berasal dari thailand dan vietnam.  Dari belanda didatangkan, sayur, sambel oelek, tempe, tahu, dan banyak lagi. Ada lagi produk-produk makanan lain dari Malaysia, Singapore, China dan Phillippines. Dari indonesia, setau saya indomie, bumbu indofood, kecap, dan beberapa macam produk, yang tak terlalu banyak macamnya.

Terus terang saya sangat kagum terhadap thailand. Agroindustrinya berkembang dengan pesat. Hasil pertanian yang diekspor, mungkin kelihatan sepele bagi kita, misalnya kacang hijau, sayur-mayur, cincau, nangka muda, bambu muda, daun sirih ataupun daun jagung. Namun barang-barang sepele itu memiliki nilai jual yang cukup tinggi disini. Harganya pun cukup mahal. Saya sedih, kenapa tanah air saya yang tidak kalah sumber daya alamnya tidak bisa mengekspor produk-produk serupa. Negeriku yang kata orang gemah ripah loh jinawi itu.





Blog EntryMalu Ber-Islam?May 28, '05 5:55 PM
for everyone

Selama di Jerman ini, ketika bersama, maupun ketika saya pergi sendirian saya dan suami sering mendapatkan suatu pertanyaan.  Pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang kami temui ketika berbelanja, ketika berjalan-jalan, maupun teman kerja atau kuliah. Pertanyaan yang mungkin dipicu karena mereka melihat saya menggunakan hijab. Yang bertanya adalah orang muslim lainnya yang berasal dari Turki, Iran, Syria, dan Mesir. Pertanyaan yang sering diajukan itu adalah : Apakah kamu muslim? Apakah kamu bisa membaca Quran? Apakah kamu sembahyang  5 waktu sehari? Ketika kami menjawab ya, mereka terkejut, entah karena mereka merasa aneh, atau respek, kami tak tahu.

Saya sendiri, have no idea why they asked us like that? Di negara ini, biasanya orang cuek dan tak mau tau, kita beragama atau tidak. Namun, pertanyaan-pertanyaan mereka terkadang memicu saya untuk menanyakan hal yang sama kepada mereka atau kepada orang lain. Biasanya yang saya tanyai adalah orang Turki, Afrika, atau orang yang memiliki nama berbau Arab. Saya bertanya : Apakah anda muslim? Beberapa dari mereka menjawab dengan bangga, dan mengucapkan alhamdulillah. Namun tak sedikit yang jawabannya sering mebuat saya mengernyitkan dahi. Ada yang menjawab, ja aber nicht ganz (ya, tapi nggak keseluruhan). Mungkin maksudnya, muslim tapi nggak kaffah. Ada pula yang menjawab, saya 50 persen muslim. Kadang pula ada yang menjawab, saya nggak terlalu muslim kok. Atau pernah seorang teman suami saya menjawab, saya muslim, tapi saya nggak ingin orang lain tau kalo saya muslim. Nah lho.

 
Saya jadi bertanya-tanya lagi, mengapa mereka menjawab demikian. Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa sebenarnya mereka merasa enggan dan malu jika orang- orang, terutama orang jerman mengetahui bila mereka bergama Islam. Ah, jadi disitu tho masalahnya, pikir saya. Salahkah mereka jika merasa begitu? Malu, sehingga tak mau menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Maraknya Islamophobia di kalangan masyarakat eropa, adanya kesan yang mendalam bahawa Islam identik dengan keterpurukan, kemiskinan dan terorisme, ataupun alasan lain yang mereka miliki, mungkin merupakan penyebabnya.

Alhamdulillah, menurut pengalaman pribadi, selama ini kami hampir tidak pernah mengalami kejadian yang kurang baik sehubungan dengan keislaman kami. Mungkin ada beberapa orang yang sinis melihat saya mengenakan hijab. Namun tak sedikit pula yang respek maupun berempati kepada saya. Kami juga bisa menjalankan ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dsb dengan tenang.  Kami juga tidak  merasa malu mengatakan diri kami muslim. Menurut saya, kalo kita yang muslim merasa malu dengan keislaman kita, maka, bagaimana mungkin kita menjadikan islam lebih maju dan menjadi agama yang disegani? So, be proud to be a moslem!:)

Dan, semoga saja kita semua bisa ber-istiqomah dalam ber-islam. Insyaallah.

 


Blog EntryBelajar untuk selalu konsistenMay 25, '05 4:36 AM
for everyone
Selama ini, saya sadari atau tidak, sebagai orang tua saya belajar banyak dari anak saya. Tepatnya, sebagai orang tua dan anak, kami sama-sama belajar. Saat Syifa, anak saya masih bayi, saya belajar mengenali kebutuhannya. Saat dia menangis, saya harus tahu, apakah karena lapar, mengantuk, ataupun karena popoknya basah. Saat Syifa tumbuh lebih besar, maka yang saya pelajari pun menjadi semakin banyak dan kompleks. Karena sekarang, dia bukan bayi kecil yang cuma bisa menangis, tapi sudah bisa menyampaikan keinginan dan pendapatnya sebagai seorang anak kecil. Saya harus banyak belajar bagaimana menjadi lebih sabar, terutama saat dia merajuk dan menginginkan sesuatu yang tidak bisa saya turuti. Dan satu hal yang menurut saya sangat penting adalah bahwa saya harus belajar untuk selalu konsisten atau istiqomah.

Belajar istiqomah ini menurut saya sangat penting, namun sangat sulit untuk dilaksanakan. Seringkali saya menasehati Syifa macam-macam, jangan begini, jangan begitu, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Tapi terkadang saya lupa atau enggan, ketika akan menerapkan pada diri sendiri. Padahal saya tahu, bahwa anak akan mencontoh apa-apa yang dilakukan orang tuanya.

Alhamdulillah, tanpa disadarinya, Syifa juga sering mengingatkan ketika saya berlaku tidak istiqomah. Misalnya saja, setelah sholat saya berusaha membiasakan diri membaca ayat-ayat Al-Quran. Namun karena alasan kemalasan atau kesibukan, saya pun memilih untuk tidak membacanya. Seringkali Syifa yang memprotes, mami baca Quran dong! Atau mami kok gak baca Quran sih? Atau ketika saya malas mengerjakan sesuatu, Syifa bilang, mami kok malas? :(
Suatu ketika, seperti biasa, 2 minggu sekali kami harus membersihkan(menyapu dan mengepel) tangga di depan apartemen. Saat itu saya merasa capek, dan memutuskan hanya menyapu saja. Syifa langsung protes dan menangis. Saya pun mengepelnya dengan terpaksa. Satu hal lagi adalah menonton tivi. Saya membatasi jam menonton tivi Syifa, dengan banyak alasan. Namun terkadang saya sendiripun ingin nonton beberapa acara tivi, padahal Syifa belom tidur. Yang begini ini yang sering menjadi dilema, dan sering juga saya langgar sendiri aturan untuk menonton tivi.

Inilah beratnya beristiqomah. Kadang dengan seenaknya kita menetapkan aturan tertentu pada anak, namun sering melonggarkan aturan untuk diri sendiri alias menetapkan standar ganda. Namun, itulah yang harus saya lakukan sebagai orang tua.

Allah dan Rasulnya pun memerintahkan kita beristiqomah, dalam segala hal, baik urusan akhirat maupun duniawi.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

Istiqamah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan tetapi istiqamah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikan ayat berikut ini:
“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Hud:112).

Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan sikap itu. Allah menjanjikan demikian: "Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah." (QS. Al-Jinn/72:16). Air adalah lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang bahagia.

Semoga saja saya bisa beristiqomah yang baik, salah satunya dalam mendidik anak. Insyaallah.

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.